TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua
Fraksi Partai Demokrat (PD) DPR RI Anas Urbaningrum mengatakan pertemuan antara Presiden SBY dengan mantan Presiden Megawati
Soekarnoputri, sebagai rekonsiliasi simbolik.
Sementara Ketua
Fraksi PDI Perjuangan yang juga menjabat sebagai Sekjen DPP PDI-P Tjahjo Kumolo, hanya tertawa lepas ketika diminta tanggapannya, apakah
pertemuan Mega dengan SBY memiliki muatan politis, sinyal bagi PDI-P
berkoalisi dengan pemerintah.
"Ha ha ha... yang namanya orang
politik, bisa saja, ada gelagat perkembangan, mau diartikan apa saja.
Tapi, kehadiran ibu (Megawati), karena memperingati sejarah bangsa. Kan
baik kalau bersama-sama," kata Tjahjo sambil terus mengumbar senyum.
Tjahjo meminta tak perlu menduga-duga terlalu jauh,
pertemuan Megawati dan SBY dalam satu forum seperti peringatan harlah
Pancasila 1 Juni, 'dibalut' dengan rencana PDI-P yang kemungkinan akan
menjadi bagian dari koalisi pemerintah.
"Pertemuan ini, tidak
ada kaitannya dengan hal lain (rencana koalisi). Jadi, kehadiran
(Megawati) ini hanya didasari komitmen. Siapapun yang memimpin negara
ini, empat pilar Pancasila harus menjadi prinsip. Kalau ada yang bilang
ini pertemuan yang jarang terjadi (SBY-Mega), itu pendapat pers saja.
Kalau ngga gitu ngga rame. Dateng rame, ngga dateng rame," kata Tjahjo
Kumolo sambil terkekeh.
Sementara Ketua Fraksi Partai Demokrat
Anas Urbaningrum menyatakan senang bertemunya SBY dan Megawati.
Dikatakan, bisa saja pertemuan ini dimaknai sebagai rekonsiliasi
simbolik dua tokoh penting milik bangsa Indonesia.
"Secara
simbolik saya kira, acara tadi bukan saja peringatan 1 Juni. Akan
tetapi, dengan hadirnya tokoh nasional pada acara hari ini, secara
politik sangat produktif. Paling tidak minimal, terjadi rekonsiliasi
simbolik," ujar Anas.
SBY Bertemu Mega, Rekonsiliasi Simbolik
Penulis: Rachmat Hidayat
Editor: Johnson Simanjuntak
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan