TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Komisi Konstitusi dan Legislasi Majelis Pertimbangan
Pusat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) TB Sunmandjaja mengaku,
keterbukaan PKS terhadap warga negara non muslim menyisakan masalah
krusial. Pasalnya, dalam kurikulum pendidikan PKS, masalah hubungan
dengan Ilahi merupakan rangkaian kegiatan yang mesti dijalani kader PKS.
"Jadi kalau untuk menjadi kader mungkin problem untuk yang
bersangkutan," ucap Sunmandjaja pada Munas Kedua PKS di hotel Ritz
Carlton, Jakarta, Jumat (18/6/2010).
Dia menjelaskan, PKS masih
membedakan keberadaan warga negara non muslim dalam pembinaan partai.
Untuk sekedar menjadi anggota pendukung, mereka harus terdaftar, dan
aktif.
"Kalau mau ikut dalam pembinaan keorganisasian, ya kita
ikut sertakan pembinaan keagamaan yang dibedakan. Misalnya kita ajarkan
berwudhu, puasa, zakat, adab masjid," urainya.
Atas perbedaan
pembinaan ini, menurutnya, keberadaan non muslim dalam PKS besar
kemungkinan sekedar menjadi anggota, dan bukannya kader partai.
"Tapi
mereka boleh menjadi caleg dari pusat sampai daerah," katanya.
Sunmandjaja
menegaskan, sikap mengakomodasi non muslim dalam PKS tak terlepas dari
tujuan parpol dalam melaksanakan amanat pembukaan UUD.
"Jadi
kita pegang empat pilar itu. Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhinneka
Tunggal Ika. Cuma dalam kaderisasi mungkin ada kurikulum-kurikulum yang
menyulitkan buat mereka yang tidak berminat," tuturnya.
Non Muslim di PKS Sulit Jadi Kader
Penulis: Ade Mayasanto
Editor: Johnson Simanjuntak
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan