TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Jelang pemilihan ketua umum oleh 13 anggota
PP Muhamadiyah 2010-2015 yang baru saja terpiih, beredar isu jika 13
orang pengurus baru tersebut akan melaksanakan voting.
Mekanisme
voting yang di luar tradisi dan kultur Muhammadiyah ini dikhawatirkan
menunjukkan ketidakpercayaan akan hasil pemungutan suara dari 2222
muktamirin yang telah memilih 13 orang pengurus baru tersebut, dengan
menempatkan Din Syamsuddin sebagai peraih suara terbanyak.
"Itu
menunjukan organisasi ini tidak pandai bermusyawarah. Bisa menunjukan
tidak kompak," kata Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP
Muhammadiyah 2005-2010, Bachtiar Effendy di lokasi Muktamar
Muhammadiyah, Kampus UMY, Yogyakarta, Selasa (6/7/2010).
Di
Muhammadiyah mekanisme pemilihan ketum dengan voting tidak menyalahi
aturan. Namun, Bachtiar yang gagal masuk 13 anggota PP Muhammadiyah baru
menyatakan bahwa metode voting menunjukan ke publik jika Muhammadiyah
tidak percaya musyawarah dan bisa ditafsirkan ada orang yang tidak rela
Din menjadi ketum kedua kalinya ini.
Dijadwalkan, pemilihan ketum
akan dilaksanakan pada Rabu (7/7/2010) oleh 13 anggota pengurus baru, secara
tertutup.
Sesuai hasil Sidang Tanwir dengan memunculkan 39 nama,
tiga di antaranya memperoleh suara terbanyak, yakni Din, Haedar Nasir,
Yunahar Ilyas. Ketiganya lah yang disebut-sebut ingin memperebutkan
kursi ketum.
Namun, dengan hasil pemungutan suara, nama Din yang
meraih suara terbanyak dan berjarak jauh suaranya di antara kedua
pesangnya tersebut. "Orang yang punya keinginan ketum, itu seperti pak
Yunahar dan Haedar," ujarnya.
Bachtiar menyatakan Din sebagai
peraih suara terbanyak, dalam kultur Muhammadiyah disepakati sebagai
ketum. "Saya yakin mereka paham itu," tandasnya.
Ia menegaskan,
apa yang disampaikan ini merukan sebagai sikap antisipasi agar internal
Muhammadiyah tidak dianggap tidak kompak oleh pihak luar.
"Kan proses
pemilihan 13 pengurus baru sudah baik, dan syukur tidak ada intervensi
dari luar. Seperti ada parpol yang ingin menempatkan orang tertentu di
kepengurusan, tapi itu kan tidak terjadi. Itu harus dijaga," tandasnya.
Ia
memperkirakan, Din tidak khawatir sekalipun pemilihan ketu dilakukan
dengan voting. "Minimum Pak Din bisa memperoleh suara 7 orang (dari 13
anggota PP). Orang seperti Malik Fajar, Syafiq, Muqoddas, Agung, Fatah,
itu orang-orang mengikuti kehendak Muktamirin," pungkasnya.
Sementara
itu, mantan Ketum PP Muhammadiyah, Safii Maarif yang akrab dipanggil
Buya menolak memprediksi apakah 13 anggota pengurus baru bisa kompak
lima tahun ke depan, meski ia berharap kekompakan itu terjalin.
"Saya
harapkan harus kompak. Sebab kalau tidak kompak, tema yang dasyat itu
tidak akan jadi kenyataan, akan tergantung di awang-awang, harus dibawa
ke bumi itu," ujar Buya seusai nonton bareng hasil pemungutan suara 13
anggota PP Muhammadiyah baru di kampus UMY, semalam.
Pengurus Baru Disinyalir Pecah
Penulis: Abdul Qodir
Editor: Johnson Simanjuntak
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan