TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pidato kenegaraan
presiden di depan sidang Parpurna DPR/DPD, tidak berbeda
jauh dengan pidato kenegaraan tahun lalu. Pidato hanya memuat janji yang tak
realistis, juga monoton, karena tidak menawarkan solusi untuk
menyelesaikan aneka masalah yang dihadapi saat ini, terutama menyangkut
merosotnya kualitas kesejahteraan rakyat.
"Maaf, saya melihat
pidato itu mirip dengan kampanye. Target-target strategis dari Reformasi
Gelombang Kedua yang dipaparkan dalam pidato kenegaraan itu sangat
sulit diwujudkan. Saya melihat Presiden sesungguhnya tidak punya
strategi untuk mewujudkan target-target itu. Katakanlah kalau presiden
punya stratategi, maka strategi itu tidak diimplementasikan dengan
konsisten," kata Bambang kepada para wartawan di Gedung MPR/DPR usai
mendengar pidato kenegaraan Presiden SBY, Senin (16/8/2010).
Idealnya,
kata Bambang, upaya mewujudkan semua target Reformasi Gelombang Kedua
itu termuat dan tercerminkan dalam semua kebijakan dan langkah
pemerintahan presiden SBY saat ini.
"Nyatanya, kita merasa bahwa
arah reformasi dan arah pembangunan nasional kita tak jelas, karena
ketiadaan strategi. Itu sebabnya saya menilai pidato SBY tak lebih dari
janji yang sangat tidak realistis," ujarnya.
"Simaklah, ketika
memaparkan target itu, presiden berulangkali menggunakan ungkapan 'masih
harus' ini-itu. Aspek kesejahteraan bagi 237,6 juta jiwa rakyat
Indonesia menjadi pilar pertama dari target itu. Ditegaskan bahwa
pokoknya pembangunan untuk rakyat," imbuhnya.
Untuk itu,
imbuhnya, hingga 2014, pemerintahan SBY mengalokasi Rp 100 trilyun-- Rp
20 trilyun per tahun-- kredit untuk rakyat dan membuka 10,7 juta
lapangan kerja baru. Apa strategi SBY untuk mewujudkan target ini?
"Menurut
saya tidak ada. Rakyat tak akan mau menyerap kredit yang disediakan
jika suku bunga masih sangat tinggi seperti sekarang. Menciptakan
lapangan kerja pun sangat sulit jika SBY tidak segera mengubah kebijakan
tentang biaya produksi di dalam negeri," kecam Bambang.
Kata
Bambang, sulit mengharapkan hadirnya investasi baru jika biaya produksi
di dalam negeri sangat mahal seperti sekarang. Belum lagi masalah
minimnya infrastruktur
Presiden juga menyinggung masalah
penyerapan anggaran yang lamban. Sayang, presiden tidak mengindikasikan
apa yang akan dilakukan pemerintah untuk meningkatkan efektivitas
pengelolaan anggaran.
Pidato Presiden Mirip Kampanye
Penulis: Rachmat Hidayat
Editor: Johnson Simanjuntak
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan