TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden
SBY menyatakan prihatin dan cemas atas berkembangnya demokrasi berbiaya
tinggi dalam pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada).
Meluasnya
politik uang, kata presiden, hanya membawa kesengsaraan bagi rakyat
dan merusak demokrasi yang sedang dibangun. Praktik politik uang,
katanya, pasti diikuti oleh pelakunya mengembalikan modal yang telah
dikeluarkan.
“Sudah sering kita dengar, seorang kandidat dengan
timnya harus mengeluarkan uang yang begitu banyak. Kecenderungan ini
berdampak negatif pada moral, etika, dan budaya politik kita. Saya bisa
pahami, diperlukan biaya untuk kegiatan politik seperti ini," ujarnya.
"Namun,
saya minta semua prosedur demokrasi harus bersumber dengan dana yang
legal, dan besarannya pun tidak melampaui batas kepatutan,” kata
Presiden SBY dalam pidarto kenegaraannya di Gedung MPR/DPR, Senin
(16/8/2010).
Selain itu, lanjut Presiden, Pemilukada di sejumlah
wilayah diwarnai oleh praktik-praktik tidak terpuji. Mulai dari praktik
politik uang, imbuhnya, hingga terjadinya aksi-aksi anarkis.
“Kita
semua ketahui, bahaya dari dari praktik-praktik buruk ini terhadap
integritas demokrasi kita. Karena itu saya mengajak kepada semua pihak
untuk meningkatkan kualitas demokrasi tanpa dicederai oleh politik uang
dan anarkisme," tuturnya.
Di pihak lain, katanya lagi,
pemerintah harus memastikan semua bangunan dasar dari sistem politik
yang diamanahkan oleh konstitusi UUD 1945, tetap terjaga eksistensinya.
Menurut Presiden, 10 Tahun reformasi telah banyak mengubah tatanan
demokrasi di Indonesia.
Dikatakan SBY, reformasi adalah sebuah revolusi diam-diam yang sukses dilakukan di Tanah Air.
"Tidak
mengejutkan. Bila ada yang mengatakan, ini sesungguhnya adalah
revolusi diam-diam, atau the quiet revolution. Sejak reformasi bergulir
pada 1998, Indonesia telah melangkah jauh dalam transisi demokrasi,"
katanya.
"3 Pemilu langsung telah dilaksanakan dengan baik. TNI
bertransformasi menjadi profesional dan tidak berpolitik. Pers telah
diberi kebebasan. Desentralisasi telah berkembang dan membuahkan pemilu
kepala daerah langsung," papar Presiden.
Presiden SBY Cemaskan Demokrasi Biaya Tinggi
Penulis: Rachmat Hidayat
Editor: Johnson Simanjuntak
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan