TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - AWALNYA saya dulu
cerewet. Saya siap diajak ngomong seharian tetapi setelah mengetahui
saya menderita kanker, saya sudah merasa akan mati. Saya hanya bisa
menangis, kalut. Setelah sharing dan dan tidak memendam perasaan
sendiri, saya merasa tenang dan bisa bertahan sampai sekarang.
Testimoni
ini disampaikan seorang penderita kanker dalam gethering penderita
kanker yang diselenggarakan Cancer Information and Support Center (CISC)
di Jakarta, Sabtu (8/1/2010), mendapatkan dukungan dr Samuel Haryono dari RS
Kanker Dharmais.
Meskipun bagi pasien terasa susah terutama saat
pertama kali tahu menderita kanker, bersikap tenang menjadi salah satu
cara yang efektif, salah satu cara untuk bertahan dan memperpanjang
hidup. Namun sikap tenang
harus ditunjukkan secara sungguh-sungguh bukan dibuat.
"Sikap
tenang ini berarti mampu menerima kenyataan setelah terkena kanker. Tapi
tenangnya harus benar-benar bukan pura-pura," ungkap dr Samuel Haryono.
Untuk bisa membentuk sikap tenang kata dia, perlu dicoba
dengan mencari pengetahuan sehingga banyak tahu misalnya dengan cara
sharing. "Juga bisa dilakukan dengan cara mengikuti kegiatan yang
dilakukan perkumpulan pasien kanker," ungkapnya.
Banyaknya
penderita kanker yang terpukul begitu mendengar salah satu kerabat atau
rekan meninggal, Samuel mengatakan janganlah menghakimi.
"Pasien harus
menghadapi, mensiasati dan harus merasa ikhlas bahwa senua akan
meninggal dan akan kembali kepada-Nya," ungkapnya.
Ketenangan Dibutuhkan Penderita Kanker
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Johnson Simanjuntak
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan