TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat
komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI) Effendy Ghazali
menduga, maraknya aksi teror bom buku yang terjadi, bisa saja menjadi
bagian dari upaya pengalihan isu. Terlebih, kasus ini muncul begitu
kasus besar, soal data wikileaks yang menyerang Presiden SBY diungkap
oleh dua media besar Australia, koran The Age dan koran The Sidney
Morning Herald.
"Secara tiba-tiba saja, marak bom buku. Lalu
ada yang bilang, wah jangan-jangan pengalihan isu. Sebelum terbukti,
tidak bisa dikatakan begitu. Cuma, mana nih kedahsyatan badan intelejen
kita, mana nih Densus 88. Kalau dikatakan ini pemain lama, berarti
mengorganisir sedemikian rupa, lalu mengirim (paket bom) ke beberapa
tempat. Tapi, lama-lama terbukti kalau ini bukan pemain lama," kata
Effendy menganalisa saat dimintai tanggapannya di DPR, Rabu
(23/03/2011).
Indikasi bukan pemain lama, tuturnya, saat ada
paket bom yang dikirim ke perumahan Kota Wisata Cibubur. Paket dibungkus
plastik hitam, kemudian tertulis ini bom.
"Nah ini gimana? Untuk
menjawab isu pengalihan isu itu, bisa dijawab dengan benar kalau
pemerintah, aparat, bisa menangkap pelakunya. Bener ngga pelakunya
pemain lama atau bukan. Kalau bisa ditangkap, serta-merta bisa dijawab
bahwa ini bukan pengalihan isu," ujarnya.
Kalau tak bisa
ditangkap, lanjutnya, makin berbahaya. Isu teror bom buku akan turun
dengan sendirinya, kemudian masyarakat lupa. "Kalau begini, namanya
pengalihan isu. Dalam teori ilmuĀ komunikasi, itu pengalihan isu. Karena
yang ada case saja, padahal Densus 88 bisa mengikuti orang sampai ke
desa. Sampai orang sedang main internet saja bisa didapat Densus 88,"
demikian Effendy Ghazali.
Teror Bom Dicurigai Misi Pengalihan Isu
Penulis: Rachmat Hidayat
Editor: Johnson Simanjuntak
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan