TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Posisinya sebagai ketua DPR, tak seperti yang dibayangkan publik.
Marzuki Alie, politisi Partai Demokrat saat obrolan santai kepada
wartawan di ruang kerjanya, Senin (25/04/2011), menuturkan, dicaci maki
publik, seakan menjadi berita yang ia dengar dalam kesehariannya kini.
"Digebukin rakyat, saya santai saja. Di era demokrasi sekarang, kita
berani tidak populer. Jangan citra terus," kata mantan Sekjen DPP Partai
Demokrat ini.
Apalagi, soal gedung baru. Marzuki mengaku, dirinya hanya menjadi juru
bicara saja, apa yang sudah menjadi keputusan bersama. Namun, katanya
lagi, publik seakan menilai dirinyalah yang paling ngotot menginginkan
agar rencana pembangunan gedung baru DPR.
"Padahal itu keputusan bersama yang diputuskan oleh BURT. Dan saya ini bukan pengambil keputusan," akunya.
Soal rencana pembangunan gedung baru DPR, banyak suara berbeda. Ada
yang bilang batal. Di rapat BURT, aku Marzuki, ada juga yang tetap agar
dibangun, tapi sederhana saja.
"Saat ini masalah ini sudah diserahkan ke ahlinya, ke kementrian PU
tunggu, kita tunggu waktu dalam satu bulan. Baru nanti akan diputuskan
oleh BURT," Marzuki menandaskan.
Ide membangun gedung kembar atau twin tower, diakui Marzuki, adalah ide
pribadi. Dengan maksud, agar rencana pembangunan gedung baru DPR itu,
dapat ditekan anggarannya. Meski begitu, ia tak bisa memutuskan, karena
harus tetap mendapat pewrsetujuan seluruh fraksi di DPR.
"Keputusan tetap dilakukan bersama, saya ngga bisa apa-apa
Marzuki Alie tak bisa putuskan gedung DPR batal. Kalau didalam, (DPR)
orang politik itu keras- keras. Bahkan ada yang sampai naik meja. DPR
bukan lembaga eksekutif. Dan Ketua DPR tak punya kewenangan penuh," ujar Marzuki Alie.
Baca tanpa iklan