News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Kepsek Otoriter! Bu Guru Pun Dijemur di Teriknya Matahari

Editor: Hasiolan Eko P Gultom
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

MENANGIS - Guru wali kelas 6A SDN Tandes Lor Surabaya, Nani Rukmiyah, bersama sejumlah muridnya mengadu ke Komisi D DPRD Surabaya, Senin (25/4/2011), terkait tindakan semena-mena kepala sekolah Wahyu Ningsih.

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Penegakan disiplin yang keterlaluan akhirnya membawa dampak buruk. Dampak itulah yang menimpa murid dan guru di SDN Tandes Lor, Surabaya. Kemarin, mereka mendatangi DPRD Surabaya guna mengadukan tekanan yang mereka alami di sekolah yang dipimpin oleh Kepala Sekolah (Kasek) Wahyu Ningsih.

Dalam pertemuan dengan para anggota DPRD dari Komisi D itu, 11 murid dan 10 guru memberikan kesaksian tentang perlakuan kebablasan dari Wahyu Ningsih. Beberapa murid dan guru meneteskan air mata, menangis, saat menceritakan bagaimana mereka diperlakukan kasar oleh kasek.

Seorang guru bernama Nani Rukmiyah menuturkan, si kasek pernah menyuruhnya berdiri di bawah tiang bendera di halaman sekolah pada siang hari yang panas, tanpa alasan yang jelas. Peristiwa itu terjadi sekitar bulan Februari lalu ketika pembagian rapor siswa.

Saat itu, Nani melihat seorang wali murid yang berada di luar pagar sekolah ingin mengajaknya bicara. Karena tak terdengar dengan jelas ucapan dari sang wali murid itu, Nani kemudian minta dia masuk ke halaman sekolah. Tapi, si wali murid tidak mau karena hanya memakai sandal jepit.

Nani akhirnya mengalah. Guru kelas VI A itu menghampiri wali murid tersebut untuk mendengar lebih jelas. Jarak Nani dengan wali murid itu agak jauh karena masih dipisahkan pagar sekolah.

Nani menceritakan, wali murid tersebut ingin mengajukan koreksi nama anaknya. Sebab, nama yang tertera di buku rapor tidak sesuai dengan nama di akta kelahiran. Nani lantas berjanji memperbaiki karena nama itu belum dicantumkan ke ijazah sehingga perbaikannya mudah.

Tak dikira Nani, ketika pembicaraan belum usai, Wahyu Ningsih memanggilnya. Tanpa alasan dan dimintai keterangan apa pun, Wahyu Ningsih itu mencela Nani.

“Ngomong terus saja !!! Ayo berdiri di sini (di bawah tiang bendera),” cerita Nani sembari terisak-isak saat menggambarkan bagaimana Wahyu Ningsih memerintah sambil menudingkan jarinya ke tempat di bawah tiang bendera di halaman sekolah.

Mendapat perintah itu, Nani tidak berani membantah. Ia pun beridiri di bawah tiang bendera sekitar pukul 10.00 WIB. Namun, panas matahari yang mulai menyengat membuat Nani tidak kuat lagi untuk terus berdiri. Ia lantas mencari tempat teduh, dan tidak menghiraukan lagi perintah itu.

Pertemuan dengan Komisi D DPRD Surabaya itu diawali dengan kesaksian para murid. Ketika giliran berikutnya guru-guru memberi kesaksian, para murid dipindahkan ke ruang lain. Selain murid dan guru, sekitar 30 orangtua murid ikut hadir dalam acara dengar pendapat di ruang Komisi D itu.

Pertemuan itu sendiri adalah tindak lanjut dari laporan tertulis wali murid dan guru SDN Tandes Lor kepada Komisi D, tertanggal 20 April lalu.

Dalam acara dengar pendapat itu juga hadir pejabat dari Dinas Pendidikan (Disdik) Surabaya, Kepala Inspektorat Pemkot Surabaya, perwakilan dari Badan Kepegawaian dan Diklat Surabaya. Wahyu Ningsih juga dihadirkan, bahkan terlihat suaminya ikut menemani.

Mendengar cerita Nani itu, seluruh peserta dengar pendapat tampak terharu. Tidak sedikit dari mereka mengusap air mata yang menetes ke pipi. Tidak hanya wali murid perempuan, wali murid laki-laki dan anggota Komisi D pun ikut terharu.

“Saya merasa dizalimi dan teraniaya oleh perilaku kepala sekolah. Setiap rapat bulanan, kepala sekolah selalu menghujat saya dan mengolok-olok saya di depan siswa,” tutur Nani dengan nada bicara terbata-bata. Nafasnya seperti agak tersengal.

Akibat tindakan Wahyu Ningsih itu, Nani merasa dikucilkan oleh guru-guru lainnya. Bahkan, ia tertekan tiap hendak masuk kelas untuk mengajar. “Saya memang orangnya bodoh, tapi saya mohon keadilan. Saya dikatakan perempuan yang suka colek-colek lelaki. Padahal, apa yang dikatakannya tidak benar sama sekali,” terang Nani.

Ia mengaku tidak tahu apa kesalahannya sehingga kasek memperlakukannya seperti itu. Nani merasa tak pernah menolak perintah atasan. Setiap habis apel pagi, lanjutnya, kasek seringkali bilang kepadanya, “Jangan sekali-kali meludahi atasan. Kalau atasan meludah, yang kena pasti bawahan. Sejak itu saya tidak lagi bisa berkata-kata. Saya pasrah kepada Allah. Saya tidak bisa apa apa,” katanya.

Celaan juga dialami guru lain, bernama Nency. Ia pernah terlambat ke sekolah karena hamil. Di depan siswa-siswa, Nency kemudian dikecam habis-habisan oleh Wahyu Ningsih.

”Kebetulan, kehamilan kedua saya ini, bawaannya agak rewel. Suatu saat saya terlambat. Kepala sekolah bilang, sakit jangan dijadikan alasan. Saya juga perempuan, juga pernah hamil,” tukas Nency.

Sejak itu, Nency sering tertekan saat berangkat ke sekolah untuk mengajar. Perasaan tertekan itu membuat tekanan darahnya meninggi. ”Akhirnya saya melahirkan prematur akibat tekanan darah tinggi itu,” kisahnya.

Perlakuan kasar Wahyu Ningsih juga diungkapkan para murid dan orangtua. Sri Astuti, wali murid dari Vena Melinda (kelas VI) mengatakan, anaknya sekarang sangat tertekan setelah dilecehkan Wahyu Ningsih di depan teman-temannya. Sri tahu sendiri karena waktu itu ia yang mengantarkan anaknya ke sekolah.

“Anak saya dikata-katai ‘kamu itu merengut saja. Ayu-ayu merengut terus’. Padahal, mimik wajah anak saya begitu karena ketakutan melihat kepala sekolah. Sekarang dia sulit diajak omong, dan sudah beberapa bulan tak mau sekolah. Kepala sekolah melarang Vena ikut ujian nasional nanti,” tutur Sri.

Pernah, saat masih di kelas III, Vena disetrap berdiri di halaman sekolah hanya karena parkir sepeda di luar sekolah. Vena yang mestinya sudah pulang pukul 4 sore, hingga pukul 5 petang belum datang di rumah. Sri kemudian mencarinya ke sekolah.

“Ternyata dia disetrap, dan ada guru Bu Ningsih yang diperintah kepala sekolah menunggui. Karena takut, Bu Ningsih tak berani menyuruh Vena pulang meskipun pelajaran sudah selesai. Akhirnya Vena saya bawa paksa pulang. Coba kalau tidak saya cari, mungkin sampai subuh dia berdiri,” tandas Sri.

Cerita Sri itu dibenarkan Bu Ningsih. “Betul apa yang dikatakan Bu Sri,” kata Bu Ningsih yang ikut hadir dalam dengar pendapat.

Lain lagi dengan cerita yag dikemukakan oleh Dinda, siswa kelas VI. Kepalanya pernah dikeplak dan didorong oleh kasek. ”Saya pernah ikut lomba paduan suara dan tidak menang, lalu disetrap,” kata Dinda sambil terisak tangis. Mendengar cerita Dinda ini, wali murid dan anggota Komisi D seakan dikomando berujar,”Kepala sekolah nggak beres iki.”

Imroatul, siswa kelas VI A, mengaku mengikuti banyak kegiatan di sekolah. Kemudian ada lomba-lomba yang diikuti sekolah, dan Icha termasuk pesertanya. Ternyata, banyak lomba yang tidak dimenangkan oleh Icha dan teman-temannya yang mewakili sekolah. Mengetahui itu, kasek marah-marah. Para murid yang ikut lomba kemudian dikumpulkan di satu ruang dan dikunci.

Kasarnya ulah Wahyu Ningsih juga dialami Evilia, siswa kelas VI. Usai senam, rambutnya jatuh semua ke wajah, lalu Wahyu Ningsih membentak dan bilang, ”Kamu itu kayak bibitnya PSK (Pekerja Seks Komersial). Saya menangis karena bentakan itu,” kata Evilia sambil menangis saat menuturkan.

Nikita Zahro, siswa kelas VA, juga pernah disemprot Wahyu Ningsih. Suatu kali, ia duduk di ruang tunggu karena ada ibunya yang mengiriminya makanan.

”Setelah itu, saya disuruh kepala sekolah masuk kelas. Saya dibilang anak pelacur, anak jalanan, tidak tahu etika. Tapi, saya tak pernah memberitahu ibu soal itu,” ujar Nikita sembari menangis sejadi-jadinya.

Ketika mendapat kesempatan berbicara, Kasek Wahyu Ningsih tampak tenang. Mengawali pembicaraannya, ia minta maaf kepada pihak-pihak yang tersakiti. Sebagai kasek, ia mengaku memiliki visi dan misi untuk memajukan sekolah. ”November 2002, saya diangkat. Waktu itu ranking SDN ini sangat di bawah dan tidak diminati warga,” ujar Wahyu Ningsih.

Kemudian, waktu demi waktu di bawah kepemimpinannya, SDN Tandes Lor mulai memiliki prestasi. Jumlah murid juga bertambah. Pada 2007 SDN ini mendapat penghargaan dari Wali Kota karena masuk dalam 25 sekolah yang berhasil berubah dari tak diminati menjadi diminati/favorit.

”Jadi, saya memperbaiki sekolah ini, ada datanya. Saya menerapkan disiplin,” katanya.

Bahkan, lanjut Wahyu, SDN Tandes Lor kini sudah kerjasama dengan negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Inggris. Ia pun menunjukkan proposal ’Membangun Kultur Sekolah Untuk Mengoptimalkan Brand Maker di SDN Tandes Lor Tahun 2007’.

”Saya sangat menyadari kalau Vena mau sekolah jika saya tidak ada. Apakah saya yang harus mengundurkan diri?” ujarnya. Perkataan Wahyu Ningsih ini kemudian ditanggapi oleh wali murid, ”Betul…betul….”

Ditanya anggota DPRD tentang perkataan PSK dan pelacur, Wahyu menjawab berbelit-belit sehingga sempat ditegur. Namun, kemudian ia mengakui perkataan itu. ”Saya mending mengalah. Inggih. Memang kalau saya marah bilang begitu,” katanya.

Diusulkan Dicopot

Tindakan Kasek SDN Tandes Lor, Surabaya, Wahyu Ningsih membuat Komisi D DPRD Surabaya geram. Anggota Komisi D Masduki Toha mengungkapkan, sebagai seorang guru, tidak selayaknya Wahyu mengatakan kata-kata negatif kepada siapa pun apalagi menuding siswa bibit pelacur.

Dengan nada sekeras-kerasnya, politisi PKB ini minta inspektorat dan dinas pendidikan (Dindik) Surabaya supaya memindahkan Wahyu Ningsih ke tempat tugas yang lain atau menjadi staf di Dindik. Dia tidak boleh mengajar lagi, kata Masduki.

”Kalau sekolah berhasil tapi proses belajar mengajarnya terganggu dan tidak sehat, untuk apa. Ini sudah tidak baik lagi bagi pertumbuhan siswa di sana. Saya minta, Bu Wahyu Ningsih dipindah,” tegas Masduki yang duduk bersebelahan dengan Wahyu Ningsih.

Mendengar pernyataan Masduki, wali murid langsung bertepuk tangan dan menyetujuinya. “Pecat saja. Guru kurang ajar itu,” celetuk salah satu wali murid.

Suasana ruang Komisi D seakan menjadi tempat penghakiman bagi Wahyu Ningsih. Wahyu Ningsih pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Namun, wajah ibu paruh baya ini terlihat tenang jemarinya mengusap-usap map yang ada di mejanya.

Anggota Komisi D lainnya, Sudarwati Rorong yang juga mantan kepala sekolah di kawasan Tambak Asri, mengusulkan supaya Wahyu segera dicopot. Selain karena tindakannya tidak pantas, dia juga sudah hampir 9 tahun menjabat kasek.

Usai anggota Komisi D mengutarakan pendapatnya, pimpinan dengar pendapat, Baktiono meminta tanggapan dari Kepala Inspektorat Kota Surabaya, Imam Sugondo.

Imam mengatakan, “Seandainya anak saya yang dibilang PSK, sudah saya bacok. Karena saya orang Madura. Mudah-mudahan itu tidak terjadi,” kata Imam dengan nada emosi mendengar siswa dibilang PSK.

Imam berjanji akan menindaklanjuti rekomendasi dari Komisi D untuk memberhentikan Wahyu Ningsih dari kepala sekolah. “Namun, di inspektorat itu ada prosedur tetap. Saya akan melaporkan ke Wali Kota,” ujarnya.

Rekomendasi Komisi D juga ditanggapi serius oleh Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dindik Surabaya, Eko Prasetyoningsih. Menurut Eko, Wahyu Ningsih sudah melakukan pelanggaran berat. Sebagai pendidik, yang diajarkan semestinya bukan hanya aspek intelektual tapi juga kesopanan dan perilaku. Kasek juga harus bisa mengayomi. “Saya wajib membuat laporan lalu saya sampaikan kepada Kepala Dinas bahwa ada rekomendasi dari Komisi D seperti itu,” katanya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini