TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Konsumen di seluruh kawasan Asia Pasifik merasa prihatin dengan lambatnya pemulihan ekonomi global dalam enam bulan terakhir. Demikian menurut MasterCard Worldwide Index terbaru tentang kepercayaan konsumen. Walaupun masih di bawah rata-rata negara di kawasan Asia-Pasifik, Indonesia menunjukkan perbaikan positif untuk sentimen konsumen dibandingkan pasar lain di Asia Tenggara.
Saat ekonomi global mengalami proses pemulihan yang lambat, 11 dari 14 pasar di kawasan Asia Pasifik, menurut hasil survei Index ini, sentimen konsumen positif dengan optimisme yang stabil terlihat di pasar berkembang maupun maju, termasuk China (78,3), Singapura (77,9), Vietnam (77,1), India (75,2), Hong Kong (69,9), Taiwan (67,6), Malaysia (64,9), Australia (63,1) dan Indonesia (58,0).
"Di antara pasar-pasar Asia Tenggara, Indonesia menduduki peringkat ke empat setelah Singapura (77,9), Vietnam (77,1) dan Malaysia (64,9), dengan sedikit peningkatan untuk kepercayaan konsumen dibandingkan dengan survei sebelumnya pada 2010. Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang mengalami peningkatan kepercayaan konsumen dalam enam bulan terakhir," kata Yuwa Hedrick-Wong, penasihat ekonomi global untuk MasterCard Worldwide dalam keterangannya, Kamis (14/7/2011).
Secara umum, 10 dari 14 pasar di kawasan Asia Pasifik mengalami penurunan kepercayaan konsumen dibandingkan dengan enam bulan sebelumnya, dengan tiga pasar -Thailand (46,1), Selandia Baru (42,2) dan Jepang (15,9)- menunjukkan pesimisme di lima indikator kunci. Di kawasan Asia Pasifik, secara umum tercatat penurunan kepercayaan konsumen dari 68,0 menjadi 61,5.
Dalam edisi ke-19 MasterCard Worldwide Index tentang kepercayaan konsumen ini merupakan survei kepercayaan konsumen yang terlama dan paling komprehensif di kawasan Asia Pasifik.
Indeks ini didasarkan pada survei yang mengukur keyakinan konsumen tentang ekspektasi pasar yang berlaku untuk enam bulan berikutnya berdasarkan lima indikator ekonomi: Ekonomi, Lapangan Kerja, Bursa Saham, Pendapatan Rutin dan Kualitas Hidup. Nilai indeks dihitung menggunakan nol sebagai nilai paling pesimistis,100 sebagai nilai paling optimistis dan 50 sebagai nilai netral.
Survei ini dilakukan mulai 15 Maret hingga 27 April 2011 dan melibatkan 10.374 konsumen dari 14 kawasan pasar. Pengumpulan data dilakukan melalui survei online, wawancara telepon pribadi, menggunakan kuesioner yang diterjemahkan ke dalam bahasa lokal sesuai bahasa konsumen tersebut. Indeks dan laporan yang menyertainya tidak mewakili kinerja keuangan MasterCard.
Para konsumen di Indonesia yakin kondisi dua dari beberapa indikator utama akan lebih baik dibandingkan survei setengah tahun sebelumnya di 2010 dan dua indikator tersebut adalah Lapangan Kerja (dari 41,3 menjadi 52,2) dan Kualitas Hidup (dari 51,9 menjadi 54,3). Sementara itu, indeks Bursa Saham tetap konstan (dari 62,7 menjadi 62,6).
Sementara itu, secara umum kepercayaan terhadap sektor Ekonomi di kawasan Asia-Pasifik turun dari 70,6 ke 59,1, dengan Lapangan Kerja turun dari 67,5 menjadi 59,9. Kepercayaan juga jatuh di kalangan konsumen untuk Kualitas Hidup (dari 64,7 menjadi 57,0) dan Bursa Saham (dari 65,8 menjadi 58,1), namun meningkat sedikit dalam hal Pendapatan Rutin (dari 71,6 menjadi 73,1).
Sementara sikap konsumen secara keseluruhan di Asia Pasifik, Afrika dan Timur Tengah masih sangat positif dalam Index ini, namun jelas terlihat bahwa persepsi konsumen dari beberapa pasar menunjukkan bahwa pemulihan dari krisis finansial tidak akan semulus harapan semua orang,
"Konsumen merupakan barometer terbaik untuk menilai kinerja ekonomi. Saat semua orang telah bertahan menjalani enam bulan yang sangat berat berurusan dengan bencana alam, ketidakstabilan politik dan ketidakpastian keuangan yang terus berlanjut di kawasan Eropa, maka tidak mengejutkan jika sentimen konsumen terlihat menurun di beberapa pasar," ungkapnya.
Baca tanpa iklan