News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Peraturan Menteri Keuangan Rugikan Industri Rokok

Penulis: Imanuel Nicolas Manafe
Editor: Johnson Simanjuntak
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sejumlah pekerja sedang melakukan proses pengeringan tembakau Deli di dalam bangsal gudang permentasi kebuh helvetia PTPN 2 di Jalan Raya Kelambir 5, Deliserdang, Sumut, Senin (21/5/2012). Tahun 2011 lalu, nilai tawar ekspor tembakau Deli menembus angka 65 Euro per kilogramnya, dan diekspor ke sejumlah negara yang ada di Eropa untuk dijadikan cerutu. Tembakau Deli merupakan tembakau dengan kualitas terbaik di dunia. (Tribun Medan/Dedy Sinuhaji)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 191/PMK.04/2010, tentang tarif cukai hasil tembakau menurut Pengamat Kebijakan Publik dari Lembaga Pemantau Penyelenggara Trias Politika RI (LP2Tri), Libyanto akan berimplikasi sebagian besar perusahaan rokok.

"Peraturan ini secara langsung dan tidak langsung berdampak pada industri rokok," ujar Libyanto dalam jumpa pers yang digelar di Restoran Pulau Dua, Jakarta Selatan, Selasa (24/7/2012).

Menurut Libyanto, dampak negatif yang dialami perusahaan rokok tentunya dengan kenaikan tarif cukai selama dua kali di tahun 2012 ini berdasarkan PMK Nomor 197 dan PMK nomor 191.

"Ini berdampak pada harga jual ke eceran sehingga berpengaruh pada daya beli," kata Libyanto.

Tidak hanya merugikan industri rokok. Libyanto mengatakan saat ini pemerintah sedang giat memacu pendapatan dan rokok merupakan pendapatan terbesar di Indonesia. Namun, di sisi lain justru dengan kenaikan cukai rokok ini berdampak pada resiko pengangguran.

"Bahwa usaha industri rokok merupakan kegiatan usaha yang memiliki penyerapan lapangan pekerjaan cukup besar, khususnya di daerah," kata Libyanto.

Untuk itu, Libyanto memberikan saran bahwa sebaiknya pemerintah dalam mengluarkan kebijakan perlu melibatkan stakeholder, pelaku usaha, lintas departemen dan instansi.

"Jangan berdiri sendiri. Ini terkesan ada menteri koordinator tapi Menteri dibawah koordinator malah membuat aturan masing-masing," kata Libyanto.

Baca Juga:

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini