News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Hati-hati Radikalisme Muncul dari Banyak Faktor

Penulis: Mochamad Faizal Rizki
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

AKSI TEATRIKAL - Ratusan massa dari Aliansi Masyarakat Anti-Radikalisme (AMAR) menggelar teatrikal saat aksi menuntut penutupan sebuah radio komunitas di Jl Soekarno-Hatta, Kota Ponorogo, Kamis (29/9/2011).

Laporan Wartawan Tribun Jakarta Mochamad Faizal Rizki

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Sekjen PBNU Imdadun Rahmat mengatakan, radikalisme memang sering muncul terkait dengan frustrasi sosial, karena kemiskinan atau ketidakadilan.

"Namun dalam konteks Indonesia, faktor utama penyebab radikalisme adalah frustasi keagamaan atau deprivasi relative teologis,"jelas Imdadun Rahmat dalam acara bedah buku dan konfrensi pers bertajuk 'kaum muda dan terorisme' di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu(12/9/2012).

Menurutnya frustrasi keagamaan akan muncul ketika sebuah rasa kehilangan harapan akan sesuatu yang sangat berharga, meluas di masyarakat. Dalam konteks kita adalah hilangnya harapan tentang terwujudnya 'kehidupan yang Islami secara kaffah'.

"Cita-cita tertinggi kaum radikal ini dipersepsikan oleh mereka sendiri yang tergantung tinggi di awan, sebab, mereka melihat kenyataan yang jauh dari harapan," katanya.

Ia menambahkan, kaum radikal ini menganggap antara persepsi 'cita' dan persepsi akan 'fakta' terdapat jarak yang sangat jauh.

"Sehingga rasa kehilangan yang bertautan dengan beratnya beban teologis ini akan menjadi kekecewaan yang menjadi asal muasal 'putus asa agama' ,"jelasnya.

Keadaan ini, lanjut dia, diperparah lagi dengan ajaran kebencian dan kekerasan yang sering diperdengarkan dipanggung agama.

"Selain mereproduksi pesimisme keagamaan, orang menjadi gelisah, kecewa dan marah terhadap kondisi yang ada, ditambah dengan ceramah-ceramah agama yang tidak menumbuhkan optimisme beragama,"lanjut Imdadun.

Imdadun menjelaskan, seorang dai radikal melihat apa yang terjadi pada umat Islam sebagai kehancuran, kekalahan, ketidakberdayaan dan kemunkaran.

"Menurut mereka ummat Islam dianggap berdosa besar dan dilaknat oleh Allah karena diperintah oleh negara yang bukan negara Islam,"terangnya.

Kaum radikal, tambah dia, menjadikan agama sangat ketat dan sempit.

"Pengetatan 'kriteria Islami' terjadi dalam segala hal, yang oleh mayoritas muslim dianggap sebagai Islami, oleh mereka dipandang jahili,"terang dia.

Imdad menerangkan, ketika frustasi keagamaan ini berakumulasi dengan faktor lain seperti kemiskinan, ketertindasa atau ketidakadilan, maka ladang subur radikalisme telah siap bertransformasi menjadi terorisme.

"Inilah habitus regenerasi kekerasan dan terorisme yang menjadi induk semang jaringan teroris baru,"tukasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini