News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Hartati Murdaya Tersangka

Murdaya Poo Yakin Istrinya Bukan Penyuap

Penulis: Edwin Firdaus
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Hartati Murdaya Poo saat berada di Gedung KPK, Rabu (12/9/2012).

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Murdaya Poo, suami Hartati, mengklaim istrinya tak punya mental melakukan tindak pidana, apalagi melakukan penyuapan.

Pengusaha nasional memastikan, sang istri diperas Bupati Buol Amran Batalipu, terkait bisnis yang dijalani istrinya di Buol, Sulawesi Tengah.

"Tidak ada keluarga kami begitu," kata Murdaya Poo di Rumah Tahanan KPK, Jakarta, Kamis (13/9/2012).

Pernyataan Murdaya sekaligus menampik tudingan KPK, yang menyebut mantan anggota Dewan Pembina Partai Demokrat menyuap Amran.

Saking geramnya, Murdaya menyebut jika semua tudingan yang dialamatkan kepada istrinya suatu kebohongan belaka.

"Sudah terang (Hartati) diperas. Mana buktinya, telepon disadap itu bohong semua," tegasnya.

Murdaya menilai Hartati memiliki pribadi berjiwa sosial tinggi. Itu terbukti lantaran istrinya telah mengubah tingkat ekonomi masyarakat Buol. Apalagi, tak ada pengusaha yang mau membangun Buol kecuali Hartati.

Sebab, salah satu faktor yang menghambat petumbuhan ekonomi di daerah itu adalah transportasi.

"Kami mau tolong saja daerah itu. 18 tahun yang lalu, (Buol) daerah terpencil yang tertinggal. Bayangkan kalau mau ke Buol dari Palu naik kapal 12 jam. Sungguh tidak layak ditanami. Jadi apa yang didapat perusahaan kita di sana, untuk nolong saja," tutur Murdaya.

Kendati demikian, menurut Murdaya, pil pahit justru menghantui perusahaan milik Hartati. Sebab, perusahaan Hartati bekalangan justru diperas preman-preman lokal, dan 3.500 pegawainya dipaksa mogok kerja.

"Kasihan kalau sampai pabrik itu mogok," keluhnya.

Murdaya juga membantah istrinya pernah meminta Amran menerbitkan surat HGU. Sebab, faktanya Hartati justru dipersulit mengolah tanah miliknya yang sudah 18 tahun ditanami kelapa sawit.

"Lahan 4.500 hektare itu kami tanam. Sudah puluhan tahun lalu milik kami. Tapi, kami dipersulit," ungkapnya. (*)

BACA JUGA

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini