News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ini Trik Atasi Banjir Ala Pemerhati Lingkungan

Penulis: Agustina Rasyida
Editor: Anita K Wardhani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pekerja sedang memilah sampah yang tersangkut di Kali Sunter, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (1/2/2013). Minimnya kesadaran warga untuk membuang sampah di tempat yang semestinya, membuat kali tersebut dipenuhi sampah. Sampah yang didominasi limbah rumah tangga ini setiap harinya terus bertambah. WARTA KOTA/ANGGA BN

Laporan Wartawan Tribun Jakarta, Agustina N.R

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Salah satu penyebab banjir pada beberapa waktu lalu di Jakarta adalah ulah manusia, yaitu buang sampah di sungai atau sembarang tempat, menebang hutan, serta menghilangkan daerah resapan.

"Kalau Jakarta Banjir jangan salahin Bogor, karena daerah penyerapan air kita sudah sedikit," kata Hendra Aquan dari Komunitas Transformasi Hijau, Senin (4/2/2012), di Jakarta.

Menurut Hendra, Jakarta memroduksi sampah enam ribu ton per hari. Selama dua hari, maka diperkirakan penduduk Jakarta dapat membangun candi borobudur dari sampah. Untuk itu, Hendra dkk menggiatkan masyarakat untuk mengembalikan fungsi ruang terbuka hijau di Jakarta. Seperti Taman Suropati, Taman Menteng, Taman Ayodya, Hutan Mangrove, dan lainnya. Area tersebut dapat digunakan sebagai daerah serapan air, termasuk jika Jakarta terendam air. Namun kini ruang terbuka sudah terancam keberadaannya dengan keberadaan sampah.

Salah satu cara untuk menanggulangi "banjir" sampah adalah mengecilkan produksi sampah. Sampah yang berasal dari rumah tangga sebaiknya dipilah-pilah, seperti plastik, sampah dapur, kertas, atau sampah organik dan anorganik. Kemudian kita bisa menjualnya ke pengepul atau depo sampah sesuai barangnya. Hal ini kita lakukan kerena pengelolaan sampah dari pemerintah masih kurang bagus.

"Misalnya kalau sampah plastik ke pengepul plastik atau komunitas green camp, sampah dapur bisa dibuat biopori. Karena kalau sudah kita pisahkan, tetapi pas sampai di TPS akan disatukan lagi sampahnya," Hendra menambahkan.

Akibat sampah, lanjut Hendra, bumi sudah beberapa kali mengalami global warming. Dibuktikan dengan beberapa binatang punah, air laut naik, hingga es mencair.

"Bumi tidak perlu diselamatkan, ia punya acara untuk pulih sendiri, yang perlu diselamatkan adalah manusianya," tandasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini