TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komunitas Ekonomi ASEAN (KEA) yang akan diberlakukan pada 2015, akan menjadi momok menakutkan bila Indonesia tidak lebih matang menyiapkan diri.
Tak hanya hasil dan produk industri dalam negeri yang terancam, penyedia jasa lokal pun akan gigit jari melihat lahan pekerjaan mereka dirampas tenaga asing.
Kementerian Luar Negeri bahkan mengingatkan, lahan para insinyur lokal juga tak akan luput dari serbuan insinyur impor.
"Kita harus siap menghadapi situasi ini. Menurut saya, buat para insinyur Indonesia, tidak mudah menerima kenyataan ini. Tapi kita harus hadapi. Karena itu, kita harus benar-benar siap mengantisipasi," kata Bobby Gafur Umar, Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), usai pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) PII di Jakarta, Kamis (23/5/2013).
Meski tak secara khusus mengagendakan pembahasan isu tersebut, Rapimnas PII juga akan membahas perlunya menyiapkan langkah-langkah antisipatif menghadapi fakta itu.
Salah satu agenda utama Rapimnas PII adalah membahas kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan CAFEO 31 (31st Conference of ASEAN Federation of Engineering Organizations), November mendatang.
Menurut Bobby, insinyur Indonesia saat ini pantas cemas, karena negeri ini hampir pasti akan menjadi lahan empuk para insinyur asing.
‘Peringatan’ yang telah dikeluarkan oleh Kemenlu beberapa waktu lalu, telah membuat banyak pihak cemas. Setelah KEA berlaku pada 2015, hampir dapat dipastikan para insinyur, tenaga ahli teknik, pekerja medis, dan beragam tenaga asing lain dari berbagai bidang keahlian, akan menyerbu Indonesia.
KEA yang telah disepakati bersama oleh para pemimpin ASEAN di Phnom Penh, Kamboja, November 2012, menurut Bobby merupakan keniscayaan yang akan terjadi.
"Karena itu, seluruh lapisan masyarakat, termasuk pemerintah, tidak hanya harus siap menyambutnya, tapi juga siap mengambil manfaat yang maksimal," tuturnya.
“Bayangkan, betapa menyedihkan jika bidang-bidang pekerjaan yang seharusnya bisa dilakukan insinyur kita, ternyata justru dikerjakan insinyur impor. Adalah sebuah ironi jika pengelolaan sumber daya alam Indonesia diserahkan kepada tenaga asing,” papar Bobby.
Saat ini, ia menilai, Indonesia masih akan kekurangan tenaga insinyur.
“Kita masih sangat membutuhkan banyak insinyur untuk membangun negeri ini. Tapi, seharusnya kita sendirilah yang mengerjakan,” sarannya.
Menko Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa beberapa waktu lalu mengungkapkan data Kementerian Kordinator Bidang Perekonomian yang cukup mencengangkan.
Menurut Hatta, pada 2025, Indonesia membutuhkan sedikitnya tambahan 129.500 insinyur per tahun. Sedangkan pada 2025 sampai 2030, Indonesia memerlukan sedikitnya 175 ribu insinyur untuk mendorong industri dan special economic zone.
“Jangan sampai insinyur asing yang masuk dan mengolah sumber daya alam kita. Tidak boleh terjadi,” tegas Hatta dalam sebuah kesempatan belum lama ini di Surabaya.
Ketua Umum PII melanjutkan, Indonesia harus menambah sedikitnya 175 ribu sarjana tekhnik per tahun pada 2025, jika ingin mencapai PDB per kapita 20.600–25.900 doalr AS.
Jumlah insinyur Indonesia saat ini masih sangat kurang atau sedikit dibandingkan negara lain di kawasan Asia.
"Kita hanya punya 164 orang insinyur per satu juta penduduk. Yang mengkhawatirkan, akhir-akhir ini minat para siswa lulusan sekolah lanjutan atau SMU untuk meneruskan pendidikan sampai menjadi insinyur, kelihatan sekali menurun. Kita hanya punya 11 persen atau 1,05 juta dari total sarjana. Yang ideal adalah 20 persen dari seluruh sarjana," urai Bobby mengutip data yang dilansir Hatta Rajasa.
Bobby membandingkan kondisi aktual yang ada di Malaysia. Di negara tersebut, rasio antara insinyur dan seluruh sarjana lulusan perguruan tinggi, mencapai 50 persen.
"Malaysia sekarang punya 13 juta sarjana teknik, dari total 27 juta penduduknya," ucap Bobby.
Sejumlah perusahaan konstruksi dan rekayasa di Indonesia, telah memutuskan mengimpor tenaga insinyur. Sebuah perusahaan kontraktor dan engineering di bilangan Jakarta Selatan misalnya, telah melakukan hal itu. Pimpinan perusahaan tersebut belum lama ini di Jakarta mengatakan, bahwa perusahaannya kini sudah sangat merasakan kekurangan tenaga insinyur berpengalaman.
"Kami terpaksa harus mengimpor insinyur. Ada yang dari Filipina, India, Australia, Amerika Serikat, dan Inggris," ungkapnya. (*)
Baca tanpa iklan