TRIBUNNEWS.COM - Tidak adanya akselerasi Polri dalam pengungkapan tuntas kelompok terorganisasi pelaku peristiwa-peristiwa penembakan keji terhadap anggota Polri, membawa dampak terulangnya kejadian penembakan terhadap Bripka Sukardi.
“Anggota Polri yg tengah bertugas, masih tetap dihadapkan pada situasi keterancaman tinggi ,tanpa jaminan proteksi yg memadai,” kata Mulyana W Kusumah, Direktur Eksekutif Seven Strategic Studies (7SS) di Jakarta Rabu (11/9/2012).
Kejadian penembakan Bripka Sukardi dipastikan kembali dilakukan oleh kelompok bersenjata yang cukup kuat dan kini masih beroperasi di Jakarta. Sesuai pantauan CCTV, para pelaku adalah orang-orang terlatih menggunakan senjata api, memiliki mobilitas tinggi, keberanian luar biasa dan mempunyai kapasitas bekerja secara tim dengan disain perencanaan tertentu.
Mulyana mengatakan, target kelompok bersenjata ini tidak sekadar menggunakan ancaman kekerasan, akan tetapi membunuh Polisi yang sedang bertugas. Pada kasus penembakan terhadap Bripka Sukardi tidak cukup dengan penembakan horizontal, akan tetapi ada pelaku lain yang melakukan eksekusi dengan penembakan vertikal yang mengakibatkan kematian.
“Dalam pengungkapan pelaku penembakan Bripka Sukardi, Polri seharusnya melakukan analisis dan evaluasi yang lebih terbuka pada semua kemungkinan, tidak terfokus secara kaku pada kelompok-kelompok dalam jaringan terorisme,” ujar Mulyana, kriminolog Universitas Indonesia (UI).
Polda Metro Jaya secara khusus perlu meningkatkan intensitas dan ektensivitas perburuan terhadap kelompok pelaku penembakan. Harus ada perintah lebih tegas, anggota Polri yang menjalankan tugas perlu bekerja dalam bentuk tim yang lebih siaga terhadap kemungkinan menjadi korban kekerasan bersenjata api.
Mengingat dalan kasus penembakan Bripka Sukardi, banyak saksi (sekitar 12 orang), kiranya maka Polri bukan hanya memaksimalkan keterangan saksi untuk menggali informasi, juga memberi perlindungan pada para saksi.
Kinerja profesional Polri harus ditunjukkan dengan tdk terjebak dalam wacana spekulatif atau mengkomunikasikan dugaan dini tentang motif dan identifikasi kelompok pelaku.
“Tetap terbuka kemungkinan kelompok pelaku adalah kelompok yang sama atau mempunyai hubungan erat dengan kelompok pelaku penembakan sebelumnya, atau justru kelompok bersenjata yang berbeda dengan motif dan tujuan berbeda,” kata Mulyana.