TRIBUNNEWS.COM - Hingga tahun ini, sudah hampir delapan tahun Suciwati Munir berdiri di depan Istana Negara, Jakarta. Bersama puluhan korban pelanggaran hak asasi manusia lainnya, ia menuntut keadilan atas kematian Munir, suaminya. Setiap Kamis, mereka menolak untuk lupa.
"Hari ini sudah memasuki Kamis ke-300. Orang memandang kami membuat manuver-manuver politik menjelang pemilu. Padahal, kami sudah melakukannya selama 300 hari Kamis,” kata Suci di Galeri Cemara, Jakarta, Senin (12/5), saat acara ”Seniman Melawan Lupa”.
Perlawanan Suci bukan untuk kepentingan pribadi. Ia sudah mengikhlaskan kepergian Munir. Namun, ikhlas bukan berarti melupakan sejarah kelam bangsa ini atas penghilangan nyawa orang secara semena-mena.
”Sejarah justru untuk mengingatkan agar kejadian yang sama tidak terulang kembali. Tidak boleh ada satu orang pun hilang dan mati di negeri ini tanpa alasan,” kata Suci.
Isu HAM, lanjut Suci, belum menjadi isu yang seksi di negeri ini. Generasi sekarang semakin melupakan pelanggaran HAM yang pernah terjadi. Bukan karena mereka sengaja lupa, tetapi mungkin karena mereka tidak lagi tahu tentang kejahatan di masa lalu.
”Media massa kurang memiliki peran dalam mengangkat isu-isu HAM sehingga masyarakat menjadi lupa,” ujar Suci.
Fakta paling jelas telah dilupakannya peristiwa pelanggaran HAM adalah masih banyaknya para pelanggar HAM yang kini mencalonkan diri menjadi presiden. Mereka bersembunyi di balik partai, menunggu waktu untuk mencengkeramkan kukunya pada kekuasaan. (Inggried Wedhaswary)
Istri Almarhum Munir Prihatin, Para Pelanggar HAM Ambisi Jadi Presiden
Editor: Agung Budi Santoso
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger