News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Plus Minus Seleksi Kabinet SBY dan Jokowi Versi Indo Barometer

Penulis: Y Gustaman
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Peneliti Indo Barometer, M Qodari berdialog dalam acara Polemik Efek Anas Makin Panas , di Jakarta, Sabtu (2/3/2013). Dialog tersebut mengulas kemelut di tubuh Partai Demokrat pascakemunduran Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum, karena telah ditetapkan sebagai tersangka korupsi hambalang oleh KPK. TRIBUNNEWS/DANY PERMANA

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Y Gustaman

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tinggal hitungan hari, Joko Widodo dan Jusuf Kalla akan dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019. Banyak orang bertanya-tanya siapa yang akan keluar menjadi pembantunya keduanya dalam lima tahun ke depan.

Terlepas dari nama-nama yang akan muncul, Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari melihat ada plus minus bagaimana Jokowi menyeleksi calon menterinya kelak dibandingkan dengan gaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sepuluh tahun menjadi orang nomor satu di Indonesia.

"Metode seleksi menteri Jokowi berbeda dengan SBY. Metode seleksi SBY bersifat relatif terbuka, yakni dengan mengundang nama-nama calon menteri untuk 'audisi' di Cikeas. Sementara metode Jokowi bersifat tertutup," ujar Qodari dalam laman Indo Barometer, Jakarta, Jumat (17/10/2014).

Menurut Qodari, metode seleksi yang dipakai SBY dan Jokowi menunjukkan plus minusnya. SBY memiliki kelebihan karena masyarakat dan media mengetahui jelas sosok yang jadi calon menteri sehingga bisa memberikan masukan dan penilaian mengenai kelebihan dan kekurangan calon.

"Kelemahannya adalah bila tidak jadi terpilih, calon merasa malu karena gagal. Kelemahan lain adalah unsur sensasi atau 'show' yang besar," imbuh Qodari.

Sementara Jokowi memiliki kelebihan karena calon yang gagal tidak merasa dipermalukan bila batal jadi menteri. Sehingga unsur sensasinya di kemudian hari tidak besar. "Tapi metode ini memiliki kelemahan karena tak bisa menarik masukan dan penilaian maksimal dari masyarakat dan media," katanya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda

Berita Populer

Berita Terkini