TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Usai terkuaknya ancaman atau teror yang melanda sejumlah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kini kubu Kepala Lembaga Pendidikan Polri Komisaris Jenderal Budi Gunawan juga mengaku mendapat sejumlah teror.
Kuasa hukum Budi, Razman Nasution, mengungkapkan Budi mendapat teror melalui sambungan telepon. Namun Razman tidak memberitahu secara detail bentuk-bentuk teror yang diterima Kapolri terpilih itu. Razman menambahkan dia sendiri juga mendapat perlakuan serupa.
"Pak BG juga diteror. Tapi tidak kita ekspos ke luar. Karena kita beranggapan ada pihak kepolisian yang bisa diminta bantuan hukum," ujar Razman kepada wartawan di KPK, Jakarta, Jumat (13/2/2015).
Walau mendapat teror, Budi Gunawan ternyata tidak mengambil tindakan hukum atas peristiwa itu. Budi Gunawan, kata dia, hanya mendiamkannya dan memilih untuk mengganti nomor selulernya agar tidak bisa lagi dihubungi pihak-pihak yang ingin menerornya.
Lebih lanjut, Razman mengajak masyarakat agar tidak menganggap teror sebagai persoalan yang luar biasa. Jika memang ada teror dan menganggap sudah tidak aman, pihak yang diteror harus melaporkan ke kepolisian.
"Beliau (Budi Gunawan) bilang, masalah teror meneror ini diberitahukan ke pihak berwajib kalau merasa tidak aman. Tolonglah kalau ada teror-meneror sampaikan ke pihak yang berwajib. Tekanan itu bukan berarti kita harus sampaikan ke rakyat kalalu ada teror. Sampaikan ke polisi," kata Razman.
Sekedar informasi, informasi mengenai adanya teror atau ancaman yang diterima pihak KPK terkuak saat penyidik KPK saat hendak memberikan kesaksian pada sidang praperadilan gugatan penetapan tersangka Kepala Lembaga Pendidikan Polri Komisaris Jenderal Budi Gunawan. Penyidik dan staf lainnya diberitakan mendapat ancaman.
Menanggapi teror tersebut, Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Badrodin Haiti yang kini menjalankan wewenang dan tugas Kapolri mengaku tidak tahu siapa yang menyebar ancaman tersebut. Badrodin juga mengaku pihaknya mendapatkan ancaman yang serupa.