Laporan Wartawan Tribunnews, Valdy Arief
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Setelah diumumkan mendapatkan kembali status kewarganegaraan Indonesia, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar kembali muncul ke hadapan publik.
Dalam kesempatan pertama setelah didera polemik paspor ganda, dia memilih Projo--kelompok relawan pendukung Joko Widodo-- sebagai sarananya menampakkan rupa lagi.
Ketua panitia diskusi yang menempatkan Arcandra sebagai pembicara tunggal, Deni Marlen, menuturkan pihaknya tidak mengundang laki-laki berdarah Minang itu.
"Beliau yang telepon kami," jelasnya di lokasi diskusi, Hotel Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (8/9/2016).
Deni menceritakan, pihaknya dihubungi Arcandra pada Jumat (2/9/2016) silam.
Menurutnya, menteri yang hanya menjabat 20 hari itu ingin bersilaturahim dengan mereka.
"Kami karena beliau yang minta, ya beri kesempatan saja," tuturnya.
Saat masuk ruangan tempat diskusi berlangsung, Arcandra langsung menyalami seluruh relawan Projo. Dia bahkan rela mengitari ruangan yang cukup luas itu hanya untuk menjabat tangan para pendukung Joko Widodo.
Dia pun tampak bersemangat membedah konsep-konsepnya guna mencapai ketahanan energi bagi Indonesia. Sebelum membuka presentasinya, laki-laki yang menghabiskan waktu puluhan tahun di negeri Paman Sam ini sempat memekikkan kata merdeka.
Dalam diskusi bertajuk "Membangun Ketahanan Energi" Arcandra memaparkan beberapa temuannya terkait permasalahan energi Indonesia selama masa jabatannya.
Menurutnya, masalah masih berkisar di ranah regulasi. "Ada beberapa peraturan yang membuat investor Migas tidak mau datang ke Indonesia," sebut Arcandra.
Setelah diskusi rampung, Dani yang juga Bendahara Umum Projo menyebut Archandra masih layak untuk menjadi Menteri ESDM. Projo pun berniat memberi usul pada Joko Widodo agar ahli tambang jebolan Amerika Serikat ini kembali diangkat.
Bahkan, Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi beberapa kali masih menyebut Archandra dengan sebutan menteri.
Baca tanpa iklan