News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Presiden Minta Jangan Ribut, Fahri Hamzah: Yang Bikin Ribut KPK

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Johnson Simanjuntak
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah menjawab pertanyaan wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (31/8/2017).

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil ketua DPR Fahri Hamzah mengatakan permintaan presiden supaya lembaga dan pemerintahan tidak gaduh sebaiknya ditujukan kepada KPK.

Pasalnya berdasarkan pemantauannya, lembaga anti rasuah tersebut selalu membuat gaduh.

‎"‎Pak presiden bilangnya kemana-kemana, jangan ribut jangan ribut. Coba bikin statistik, yang bikin ribut di indonesia cuma satu, cuma KPK. Yang lain kan enggak bikin ribut. Diem aja. Ini semua kan karena KPK," kata Fahri di komplek parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, (4/10/2017).

Fahri mengatakan KPK sekarang ini bekerja seperti bukan sebagai lembaga penegak hukum.

Melainkan, sebagai kantor pemberitaan korupsi. Banyak pernyataan KPK yang tidak sesuai dengan kenyataan.

"Misalnya dia bilang 2,3 triliun dipakai bancakan di DPR Mana? Tidak ada," katanya.

‎Selain itu menurut Fahri pernyataan KPK, yang tidak sesuai dengan kenyataan yakni mengenai adanya anggota DPR yang mengembalikan uang terkait KTP elektronik.

Padahal, uang tersebut tidak terkait KPT elektronik. Belum lagi ada orang yang setelah tujuh tahun mengembalikan uang kepada KPK, tetapi orang tersebut tidak ditahan.

Baca: Moeldoko Mengaku Siap Jika Ditarik Masuk Ke Pemerintahan

‎"Siapa orang itu? Kenapa orang itu enggak jadi tersangka? Dia sudah nikmatin uang paling tidak bunganya selama tujuh tahun. Kenapa dia enggak jadi tersangka? Kenapa yang belum jelas terima uang, dikoyak-koyak setiap hari," katanya.

Oleh karena itu Fahri menilai sebaiknya lembaga KPK dibubarkan. Penanganan korupsi sebaiknya dikembalikan ke kepolisian dan kejaksaan.

‎" KPK ini sebenarnya kekonyolan yang sudah kadung kita benarkan. Ini yang membuat nalar publik rusak," ujarnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini