News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Buwas: Ini Hari Terakhir Saya Dengan Pakaian Dinas Polisi

Penulis: Dennis Destryawan
Editor: Adi Suhendi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Komisaris Jenderal Budi Waseso

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dennis Destryawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komisaris Jenderal Budi Waseso menjalani hari-hari terakhirnya menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN).

Budi Waseso alias Buwas merilis pengungkapan narkotika jenis sabu 1,375 ton di perairan Batam bersama TNI AL dan Bea Cukai pada 9 Februari di Kantor BNN, Jakarta Timur, Selasa (20/2/2018).

Buwas mengenakan seragam kepolisian lengkap dengan atribut.

Di sela-sela acara, para awak media mengucapkan selamat ulang tahun kepada Buwas yang lahir pada 19 Februari 1960.

Baca: Kronologi BNN dan TNI Bongkar Kasus Sabu 1,3 Ton di Laut

Pria kelahiran Pati, Jawa Tengah, itu pun melepaskan senyuman.

Ia merasa diingatkan masa-masa terakhirnya menjabat sebagai Kepala BNN. Sebab, ia akan pensiun pada Maret 2018.

"Kalian mengingatkan saya kalau mau pensiun ya," ujar Buwas seraya tersenyum di kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (20/2/2018).

Tak biasanya, Buwas mengenakan seragam dinas Polri, lengkap dengan atribut.

Baca: Seorang Ibu Di Garut Tega Menyetrika Tubuh Anak Kandungnya

Ia mengatakan, hari ini, merupakan hari terakhir dirinya mengenakan seragam kepolisian.

"Ini hari terakhir saya dengan pakaian dinas polisi," ujarnya.

Buwas menerangkan, masih banyak pekerjaan rumah BNN yang harus dilakukan.

Saat ini, menurutnya, Indonesia merupakan pangsa pasar para bandar narkoba.

"Kita disuplai besar, karena ada permintaan yang juga besar," ujar Buwas.

Baca: Setya Novanto Ungkap Rutinitasnya di Tahanan dari Cuci Piring Hingga Menyapu Sebelum Sidang

Di Amerika Serikat, ucap Buwas, para gembong narkoba saling bersaing.

Bahkan, saling 'tikam' untuk menguasai pasar narkoba di negeri paman sam.

Berbeda dengan Indonesia.

"Kalau di Indonesia tidak. Satu diskotek ada lima jaringan. Sama-sama damai, karena masing-masing untung," ujarnya.

Bahkan, kasus di diskotek MG Internasional Club, Jalan Tubagus Angke, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat, masuk dalam kategori laboratorium narkotika terbesar.

"Indonesia luar biasa. Karena mau dijadikan laboratorium lapangan oleh kartel-kartel dunia. Mereka membuat jenis baru, uji cobanya di Indonesia," ujarnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini