News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Virus Corona

Survei Median: Netizen Lebih Memilih Lockdown daripada PPKM

Editor: Hasanudin Aco
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Petugas merapikan tumpukan kantong sampah plastik kuning yang menumpuk di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (6/7/2021). Sejumlah petugas berpakaian alat pelindung diri (APD) lengkap tiap hari mengumpulkan kantong plastik berwarna kuning yang menumpuk berisikan APD bekas pakai, kardus makanan, dan sejumlah barang pasien yang sudah tidak terpakai. Kemudian tumpukan limbah itu disimpan di ruang khusus Tower 7 RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet. Sekali angkut, RSD Wisma Atlet bisa mengangkut 2 ton limbah medis corona. Dalam sehari petugas dapat mengangkut 3 kali yaitu pagi, siang, dan malam hari. Tribunnews/Jeprima

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Survei media sosial terbaru yang dirilis Lembaga Media Survei Nasional (Median) mengetengahkan persepsi masyarakat terhadap pengetatan atau pembatasan sosial yang diterapkan pemerintah selama pandemic covid-19 ini.

Hasilnya, ternyata lebih banyak masyarakat yang memilih pengetatan total seperti karantina (lockdown) ketimbang PPKM skala Mikro seperti yang telah diberlakukan pemerintah sejak awal tahun 2021 lalu.

"Mayoritas lebih banyak setuju langkah-langkah pengetatan total seperti karantina dan lockdown, yaitu bagi yang setuju angkanya 39,3 persen, sedangkan yang setuju PPKM mikro hanya sebesar 35,4 persen. Lebih banyak yang setuju karantina daripada PPKM mikro," ujar Direktur Eksekutif Median Rico Marbun dalam rilis survei, Rabu (7/7/2021).

Dalam survei tersebut, Median mendapati tiga alasan besar, mengapa masyarakat lebih memilih pengetatat total, antara lain karena dianggap bisa menghentikan penyebaran virus (11,9 persen), mencegah peningkatan korban lebih banyak (9 persen), lebih efektif efisien (4,8 persen) dan alasan-alasan lainnya.

"Pengetatan total ini lebih dipilih masyarakat karena tingkat keparahan COVID-19 yang semakin berat dibanding tahun sebelumnya,” ujar Rico.

Survei Median via Media Sosial ini menggunakan rancangan Non Probability Sampling.

Kuesioner berbasis Google Form disebarkan melalui Facebook dengan target pengguna aktif Facebook berusia 17-60+.

Form Pertanyaan disebar secara proporsional terhadap populasi dan tersebar di akun Facebook di 34 Provinsi.

Hasilnya terkumpul sebanyak 1.089 responden yang tersebar di 32 provinsi.

Hasil survei dimaksudkan untuk menggali persepsi pengguna media sosial Facebook di Indonesia.

Baca Selanjutnya: Pt equity life bantah pernyataan anies soal paksa karyawan ibu hamil masuk kerja

Karena sampel adalah pengguna media sosial, maka survei ini tidak dimaksudkan untuk memberi gambaran persepsi populasi secara keseluruhan.

Pandemi 2021 Lebih Parah

Hasil survei Median juga menunjukkan, hampir separuh responden menyatakan situasi pandemi Covid-19 pada tahun ini lebih parah dibandingkan sebelumnya.

"Jadi 49,7 persen netizen itu menyatakan bahwa situasi Covid-19 itu makin parah sekarang ini dibandingkan dengan setahun yang lalu," kata Direktur Eksekutif Meidan Rico Marbun dikutip dari Kompas.com.

Sementara itu, 29,3 persen responden menyatakan situasi pandemi tahun ini sama saja dibandingkan tahun lalu, 14,2 persen responden menyatakan lebih baik, dan 6,8 persen responden tidak tahu atau tidak menjawab.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini