News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Es di Puncak Jayawijaya Papua dari 200 Km Tinggal 2 Km Persegi, Bakal Punah pada 2025

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Johnson Simanjuntak
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Puncak Jaya atau Carstensz Pyramid, di Papua, Indonesia.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan bahwa es di puncak Pegunungan Jayawijaya, Papua akan punah pada tahun 2025, mendatang.

Dwikorita menyebut, hal itu disebabkan terjadinya kondisi cuaca eksrim serta perubahan iklim di dunia.

Hal itu disampaikan Dwikorita dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (21/3/2022).

"Penyusutan Gunung es, Puncak Jayawijaya yang di teliti oleh BMKG, diprediksi tahun 2025, es itu sudah punah, sudah tidak ada di Puncak Jayawijaya lagi," kata Dwikorita.

Ia menambahkan, bahwa saat ini tahun 2022, kondisi es di Puncak Jayawijaya tinggal 1 persen. Dimana, hanya tersisa 2 Km persegi.

"Dan saat ini kondisinya tinggal 1 persen area es di Puncak Jaya, dari 200 km persegi sekarang tinggal 2 km persegi," ungkapnya.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (21/3/2022). (Ist)

Selain itu, Dwikorita menambahkan bahwa temperatur suhu yang terjadi di Jakarta mengalami peningkatan ekstrim. Dimana, dalam periode 100 tahun, suhu udara di Jakarta telah meningkat 1 derajat celcius.

Padahal, dalam kesepakatan global telah disepakati bahwa kenaikan suhu 1 derajat celcius akan terjadi di tahun 2030, mendatang.

Baca juga: BMKG Prediksi Tahun 2025 Tidak Ada Lagi Lapisan Es di Puncak Jayawijaya

Namun, di tahun 2016, telah terjadi peningkatan suhu sebesar 1,5 derajat celcius di Jakarta.

"Padahal kesepatakan global itu dibatasi 1, derajat celcius nanti di tahun 2030. Ini data di tahun 2016," kata Dwikorita.

"Jadi ini mendahuli tahun 2030, jadi sudah hampir mencapai 1,5 (derajat celcius,red). Dan juga banjir Jakarta menunjukan data terakhir menunjukan frekuensi banjir meningkat pada dekade terakhir bersesuaian dengan intensitas curah hujan harian yang tinggi tahunan," jelasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini