Ringkasan Berita:
- Dua korban longsor ditemukan, tiga lainnya masih tertimbun, keluarga menanti dengan penuh harap.
- Tim SAR berpacu dengan cuaca ekstrem, tanah labil jadi tantangan pencarian korban.
- BNPB catat 174 tewas, 79 hilang di Sumatera, ribuan pengungsi masih bertahan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tim SAR Gabungan berhasil menemukan dua korban tanah longsor di area Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) di Kecamatan Aek Sibundong, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara (Sumut). Pencarian masih dilakukan terhadap tiga korban lainnya yang belum ditemukan.
Longsor terjadi pada Rabu (26/11/2025) setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Material tanah dan bebatuan menimpa area kerja proyek dan membuat sejumlah pekerja tertimbun.
Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan segera mengerahkan tim ke lokasi. Operasi melibatkan Basarnas Medan, TNI-Polri, BPBD, pemerintah daerah, pihak PLTM, serta unsur potensi SAR.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan, Hery Marantika, yang bertindak sebagai Search Mission Coordinator (SMC), menjelaskan pencarian dilakukan sejak hari pertama menggunakan metode manual search dengan alat ekstraksi ringan dan excavator.
“Tim SAR Gabungan bekerja semaksimal mungkin di lapangan. Kondisi cuaca dan struktur tanah yang labil menjadi tantangan tersendiri, namun tidak mengurangi komitmen kami untuk menemukan seluruh korban,” kata Hery dalam keteerangan pers, Sabtu (29/11/2025).
Ia menambahkan bahwa koordinasi lintas instansi terus diperkuat.
“Sinergi antarinstansi sangat membantu mempercepat proses. Kami mengimbau seluruh personel tetap mengutamakan keselamatan mengingat potensi longsor susulan masih ada,” tambahnya.
Pada Jumat (28/11/2025), dua korban ditemukan: Farida pada pukul 15.55 WIB dan Gidion Manalu pada pukul 17.28 WIB. Keduanya dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarga melalui unsur terkait.
Baca juga: Banjir 3 Provinsi Sumatera, Pemerintah Buka Peluang Status Bencana Nasional
Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh sejak 26 November 2025 menimbulkan dampak besar.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 29 November 2025, tercatat 174 orang meninggal dunia, 79 orang masih hilang, dan 12 orang luka-luka. Sebanyak 12.546 kepala keluarga mengungsi, sementara kerusakan rumah dan jembatan masih dalam proses verifikasi. BNPB menegaskan bahwa kerusakan infrastruktur cukup parah sehingga menghambat evakuasi dan distribusi bantuan.
Peristiwa ini menyoroti pentingnya mitigasi bencana di proyek energi terbarukan yang berada di wilayah rawan longsor. Keluarga korban masih menanti kepastian, sementara tim SAR terus berpacu dengan cuaca dan waktu.
Baca tanpa iklan