Ringkasan Berita:
- Menlu Sugiono mengatakan pemerintah Indonesia belum membuka pintu bantuan dari luar negeri untuk banjir Sumatra.
- Padahal, media asing sudah ramai memberitakan situasi di Sumatra yang terdampak banjir.
- Al Jazeera dalam artikel terbarunya, mengatakan kelaparan masih menjadi ancaman serius bagi korban banjir Sumatra.
TRIBUNNEWS.com - Bencana banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar) ramai diberitakan media asing.
Meski demikian, pemerintah Indonesia mengatakan hingga saat ini belum akan membuka bantuan dari luar negeri untuk bencana di Sumatra.
"Saya kira, kita dengan semua kekuatan, tadi disampaikan bahwa ini adalah upaya bersama."
"Saya yakin kita bisa menyelesaikan masalah ini," kata Menteri Luar Negeri (Menlu), Sugiono, di Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Jakarta, Jumat (5/12/2025), dikutip dari Kompas.com.
"(Bantuan dari luar negeri) masih ditutup sampai kita merasa membutuhkan bantuan," imbuhnya.
Ramai Diberitakan Media Asing
Banjir di Sumatra sudah ramai diberitakan media asing sejak awal bencana melanda.
Baca juga: Menilik Lahan HTI Prabowo di Aceh, Jadi Sorotan di Tengah Banjir, Pernah Disinggung Jokowi
Pada Kamis (4/12/2025), Reuters memberitakan soal pernyataan pemerintah yang akan mengambil sikap terhadap perusahaan-perusahaan yang diduga menjadi penyebab banjir di Sumatra.
Dalam artikelnya berjudul Indonesia pledges action on companies causing catastrophic Sumatra floods, Reuters melaporkan beberapa wilayah di Aceh, seperti Aceh Tengah dan Bener Meriah, masih terisolasi.
Reuters mengatakan banyak jasad korban banjir masih banyak yang terkubur di bawah lumpur dan puing-puing sehingga menimbulkan bau tak sedap.
Di hari yang sama, ABC Australia juga memuat berita banjir Sumatra dengan judul Indonesian environmentalists blame rapid forest loss in Sumatra for severity of deadly floods.
Dalam artikel itu, ABC Australia memuat pernyataan profesor kebijakan hutan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dodik Ridho Nurochmat.
Dodik mengatakan banjir dan tanah longsor di Sumatra terjadi akibat faktor alam dan manusia.
"Ada kondisi cuaca ekstrem, geografi pegunungan, dan degradasi lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia," ujarnya dalam sebuah pernyataan.
Sumber kayu gelondongan yang merusak rumah dan bangunan lain saat tersapu banjir masih belum jelas, katanya.
"Mereka bisa berasal dari aktivitas penebangan lama atau pembukaan lahan yang belum tuntas … bisa juga berasal dari penebangan baru-baru ini. Oleh karena itu, diperlukan investigasi," kata dia.
ABC Australia juga mewawancarai warga lokal di Sumatra Utara, Ramlan, mengenai banjir yang terjadi.
Ramlan menilai banjir disebabkan oleh hutan yang dialihfungsikan menjadi lahan kelapa sawit.
"Taman Nasional Leuser telah diambil alih oleh kelapa sawit," katanya, merujuk pada taman yang merupakan salah satu dari dua habitat tersisa bagi orangutan Sumatra dan juga rumah bagi gajah, badak, dan harimau.
"Saya rasa itu penyebab banjir bandang ini, air hujan yang deras sudah tidak mampu ditampung lagi oleh hutan."
"Sekarang, rakyat kecil seperti kami yang menanggung beban dan pengusaha dari luar Langkat yang menikmati keuntungannya," imbuh dia.
Reuters kembali memberitakan banjir Sumatra dengan artikel berjudul Deadly Sumatra flooding triggers memories of Indian Ocean tsunami, Jumat (5/12/2025).
Baca juga: Bupati Aceh Selatan Akui Umrah tanpa Izin Mendagri Tito dan Gubernur, Bakal Diperiksa saat Pulang
Seorang nelayan di Aceh, Effendi Basyaruddin, mengaku dampak banjir yang terjadi saat ini, melebihi bencana tsunami pada 2004 silam.
"Saya melihat gelombang tertinggi saat tsunami, sekitar 20 meter," kata Effendi kepada Reuters.
"Tapi banjirnya lebih besar ... desa-desa menjadi sungai."
Reuters juga mengutip pernyataan Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil, yang menangis karena mengaku tak sanggup menangani bencana banjir di wilayahnya tanpa bantuan dari pusat.
Ia sudah meminta meminta pemerintah untuk menetapkan status darurat nasional atas bencana tersebut agar dapat menyediakan dana tambahan untuk upaya penyelamatan dan bantuan.
"Saya tidak sanggup... jumlah korbannya luar biasa. Rumah-rumah warga hancur. Tidak ada perhatian dari pemerintah pusat," ujarnya sambil menangis dalam sebuah video yang beredar.
Reuters melaporkan, minggu ini, pemerintah Indonesia mengatakan selalu mendukung pemerintah daerah, dan menambahkan anggaran Rp500 miliar yang disisihkan untuk bantuan bencana sudah cukup dan dapat ditingkatkan jika diperlukan
Presiden Prabowo Subianto, ketika ditanya awal minggu ini tentang deklarasi keadaan darurat nasional, mengatakan situasi membaik dan pengaturan saat ini sudah memadai.
Sementara itu, artikel terbaru dari Al Jazeera, Sabtu (6/12/2025), berjudul Heavy rains hamper recovery as death toll from floods in Asia exceeds 1,750, melaporkan kelaparan masih menjadi ancaman paling serius bagi korban banjir Sumatra, terlebih bagi mereka yang berada di desa terpencil dan sulit dijangkau.
Gubernur Aceh ,Muzakir Manaf, mengatakan tim tanggap darurat masih mencari jenazah di lumpur setinggi pinggang.
"Banyak orang membutuhkan kebutuhan dasar. Banyak daerah terpencil di Aceh yang belum tersentuh," ucap dia.
"Wilayah Aceh Tamiang hancur total dari hulu sampai hilir, sampai ke jalan raya dan sampai ke laut. Banyak desa dan kecamatan sekarang hanya tinggal nama saja," lanjutnya.
Update Korban Banjir Sumatra
Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) memberikan update terbaru jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar, Sabtu (6/12/2025) sore.
Tercatat jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang dan longsor di Sumatra hingga saat ini berjumlah 914 jiwa.
Angka tersebut meningkat 47 jiwa dari hari sebelumnya yang mencatat
Jumlah korban meninggal secara total 914 jiwa, bertambah 47 jiwa dari hari sebelumnya yang hanya berjumlah 867 jiwa.
Adapun rician 914 jiwa korban meninggal dunia tersebut di antaranya 359 jiwa di Aceh, 329 jiwa di Sumut, dan 226 jiwa di Sumbar.
Untuk korban yang masih dinyatakan hilang, BNPB mencatat saat ini berjumlah 389 jiwa.
Angka tersebut menurun dari hari sebelumnya yang mencatat ada 521 jiwa yang dinyatakan hilang.
"Angka ini bergerak dinamis, di mana ada beberapa korban yang sebelumnya dilaporkan hilang ternyata di beberapa tempat kemudian dinyatakan dalam selamat," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam jumpa pers, Sabtu sore.
Pihaknya bersama instansi terkait saat ini berupaya terus melakukan pencarian terhadap para korban yang masih dinyatakan hilang.
"BNPB akan terus mengoptimalkan operasi pencarian dan pertolongan hingga nanti daftar korban hilang bisa kita minimalkan sekecil mungkin," pungkasnya.
(Tribunnews.com/Pravitri Retno W/Adi Suhendi, Kompas.com/Shela Octavia)
Baca tanpa iklan