Ringkasan Berita:
- Para aktivis yang terkena teror tersebut sebelumnya menilai bahwa pemerintah lambat dalam menangani bencana
- Rocky Gerung mengatakan, teror-teror yang dikirimkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab kepada para aktivis dan influencer itu hanya untuk memecah belah bangsa
- Rocky juga menyatakan bahwa mereka yang melayangkan kritik terkait bencana Sumatra itu benar-benar dari hati nurani
TIBUNNEWS.COM - Pengamat politik, Rocky Gerung, minta agar para aktivis hingga influencer yang terkena teror setelah melayangkan kritikan atas penanganan bencana banjir dan longsor di wilayah Sumatra, untuk dilindungi.
Mereka yang terkena teror tersebut, sebelumnya menilai bahwa pemerintah lambat dalam menangani bencana, apalagi tidak ada penetapan status bencana nasional, dan sudah 1 bulan penanganan bencana berlangsung sejak terjadi pada akhir November 2025 lalu.
Para aktivis yang terkena teror sejauh ini adalah Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, yang rumahnya dikirimi bangkai ayam.
Ada juga konten kreator asal Aceh, Sherly Annavita yang mobilnya dicoret-coret dan rumahnya dilempari telur busuk hingga dikirimi pesan bernada ancaman di secarik kertas.
Selanjutnya adalah pemusik asal Aceh atau Disjoki (DJ) Ramond Dony Adam yang akrab disapa DJ Donny, rumahnya menjadi sasaran teror bom molotov.
Bahkan, sebelumnya dia juga menerima paket berisi bangkai ayam hitam yang disertai dengan surat kaleng berisi peringatan bernada ancaman.
Kemudian, aktor Yama Carlos juga tak luput dari sasaran teror, mengaku menerima kiriman barang dengan sistem pembayaran di tempat (COD) dari akun fiktif dengan nama istrinya terus menerus.
Rocky pun mengatakan, selain menerima pujian, pemerintah juga harus menerima kritikan, apalagi terkait kebijakan-kebijakannya.
"Semua kebijakan begitu dia masuk ke wilayah publik, dia mengalami bifurkasi, Artinya ada yang ke kiri, ada yang ke kanan. Akibatnya apa? Yang ke kiri mengkritik, yang kanan memuji, hal yang sangat biasa," kata Rocky, dikutip dari YouTube Rocky Gerung Official, Rabu (31/12/2025).
"Jadi kita mesti pastikan bahwa mereka yang sekarang dihina, dicaci atau bahkan dikirimi bangkai segala macam, itu artinya pemerintah, siapapun, harus bertanggung jawab terhadap tekanan pada warga negara," sambungnya,
Menurut Rocky, teror-teror yang dikirimkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab kepada para aktivis dan influencer itu hanya untuk memecah belah bangsa.
Rocky mengatakan, para aktivis dan influencer itu harus tetap dilindungi negara.
"Sangat mungkin juga ini ada mereka yang ingin memecah belah pemerintah atau mereka yang ingin supaya ada ketegangan sosial baru sehingga terjadi konflik horizontal," ujarnya.
Baca juga: Kronologi Aktivis Greenpeace Iqbal Damanik Dapat Teror Bangkai, Diduga karena Kritik Banjir Sumatra
"Mereka yang mengkritik itu harus dilindungi karena justru kejujuran datang dari kritik, mereka yang memuji-muji juga berhak untuk mengacungkan jempol pada penanganan
pemerintah."
"Tetapi ada pihak yang merasa bahwa ini sudah 1 bulan itu 2 minggu darurat (bencana di Sumatra) diperpanjang lagi dan masih soal apakah ini nasionalisme lebih penting atau humanisme," imbuhnya.
Rocky lantas menyatakan bahwa mereka yang melayangkan kritik terkait bencana Sumatra itu, benar-benar dari hati nurani.
"Teman-teman yang melakukan kritik itu betul-betul jujur ingin mengucapkan dari hati mereka bahwa bencana di Pulau Sumatra itu adalah bencana yang disebabkan oleh kegagalan evaluasi kebijakan, semuanya terjadi karena AMDAL-nya di dilulantakkan oleh kekuasaan putih yang bergabung dengan kekuasaan bisnis," tegasnya.
"Jadi kita mesti fair bahwa Presiden Prabowo tentu berupaya untuk mengendalikan itu. Tetapi kecerewetan netizen juga jangan dihalangi karena mereka merasa bahwa terlalu lamban pemerintah tuh. Bahwa ada prestasi, oke, tetapi kritik adalah bagian dari upaya untuk memitigasi secara lebih cepat," sambung Rocky.
Rocky menegaskan lagi bahwa apapun yang dihasilkan melalui wacana publik itu adalah hak publik.
"Jangan ditekan dan jangan dibatasi hanya karena kemarahan atau kebencian, lalu para influencer ini atau public figure itu kemudian diancam, itu enggak fair tuh. Tetap saya beranggapan bahwa hak publik untuk mengucapkan yang jujur."
"Nah, kejujuran itu bisa dalam bentuk puji-pujian juga bisa dalam bentuk cacian, itu biasa saja, karena dua-duanya ekspresi dari kesadaran bahwa ada yang sudah berhasil, tapi banyak yang menganggap bahwa ini terlalu lambat keberhasilan itu."
"Jadi di titik itulah kita mengerti bahwa demokrasi memang cerewet, harus diterima bahwa kecerewetan itu bagian dari ekspresi real, ekspresi otentik dari warga negara," papar Rocky.
Kritikan Para Aktivis dan Influencer
Sebagai bagian dari Greenpeace yang merupakan organisasi kampanye lingkungan hidup internasional yang independen, Iqbal sebelumnya memang vokal dan lantang menyuarakan isu lingkungan hidup setelah terjadinya banjir dan longsor di Sumatra.
Greenpeace kerap kali menggunakan aksi damai dan kreatif untuk menyoroti masalah lingkungan serta mendorong solusi berkelanjutan.
Belakangan ini, Iqbal melalui akun media sosial pribadinya juga kerap menayangkan unggahan tentang banjir Sumatra dan respons pemerintah dalam menangani bencana tersebut.
Selain Iqbal, sejumlah juru kampanye Greenpeace juga banyak bersuara lewat wawancara media maupun media sosial.
Berbagai pernyataan tersebut, berangkat dari temuan tim yang pergi ke lapangan pasca bencana, serta temuan dan analisis Greenpeace.
Namun, dalam beberapa hari terakhir, Iqbal banyak menerima serangan di kolom komentar unggahan media sosialnya, juga pesan bernada ancaman lewat direct message (DM) Instagram.
Kemudian pada Selasa, 30 Desember 2025, rumah Iqbal dikirimi bangkai ayam tanpa pembungkus apapun.
Bahkan, di kaki ayam tersebut terikat plastik berisi kertas bertuliskan pesan “JAGALAH UCAPANMU APABILA ANDA INGIN MENJAGA KELUARGAMU, MULUTMU HARIMAUMU”.
Kemudian, Sherly sebelumnya juga menyampaikan kritik terhadap penanganan bencana banjir yang melanda Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh yang dinilai lambat dalam hal distribusi bantuan ke daerah-daerah terisolir, seperti Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang.
Menurut Sherly, akses ke wilayah-wilayah tersebut terputus akibat banyaknya jembatan yang ambruk, sehingga menyulitkan penyaluran bantuan.
Ia juga menyoroti kebijakan penolakan bantuan asing yang dinilai sangat dibutuhkan oleh para korban banjir.
Baca juga: Rangkaian Teror Sasar DJ Donny: Rumah Dilempar Molotov, Sebelumnya Paket Bangkai Ayam
Setelah itu, Sherly mendapatkan teror perusakan kendaraan hingga ancaman langsung maupun digital.
Rumahnya juga dilempar telur busuk hingga dikirimkan secarik kertas bernada ancaman bertuliskan “Jangan kau manfaatkan bencana di Aceh untuk mencari popularitas murahan dan untuk menambah cuan buat kamu pribadi. Jangan kamu menggiring opini sesat,” demikian pesan ancaman terhadap Sherly.
Melalui akun Instagram pribadinya, @sherlyannavita, Sherly pun meminta perhatian Presiden Prabowo Subianto atas aksi teror yang dialaminya.
Sementara DJ Donny, sebelum menerima teror, dirinya sempat melontarkan sejumlah kritik kepada pemerintah tentang penanganan bencana di Sumatra karena lambatnya respons pemerintah dan minta agar ada pengusutan penyebab bencana Sumatra.
Namun, DJ Donny juga menyatakan bahwa dia tidak selalu kontra dengan kebijakan pemerintah. Kritik yang disampaikan kepada publik itu merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi sosial dan dianggap sebagai suara hati masyarakat yang mengalami kesulitan.
Dalam teror yang diterimanya itu, DJ Donny juga menerima foto Dony yang digambar seolah-olah lehernya tergorok dan surat kaleng berisi tulisan ancaman yang memperingatkan sang DJ agar menjaga lisannya di media sosial.
Selanjutnya, aktor Yama Carlos sebelumnya sempat mengunggah video satire tentang pejabat saat memberi pernyataan publik soal penanganan bencana Sumatra, tanpa menyebutkan nama pejabat maupun pihak tertentu.
Setelah itu, dia mendapatkan teror, kemudian video tersebut dihapus olehnya. Namun, teror tersebut masih terus berlangsung.
Bahkan, teror itu juga menyasar orang-orang terdekat Yama yang mengalami peretasan dan pengambilalihan nomor ponsel.
Ternyata teror masih masih terus berlanjut hingga Yama menerima kiriman barang dengan sistem pembayaran di tempat (COD) dari akun fiktif atas nama istrinya yang tidak pernah dibeli sebelumnya.
(Tribunnews.com/Rifqah)
Baca tanpa iklan