News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Wacana Pilkada Melalui DPRD

Benny Harman: Pilkada Lewat DPRD Bukan Solusi, Demokrasi Bisa Mundur

Penulis: Fersianus Waku
Editor: Acos Abdul Qodir
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Warga menggunakan hak pilihnya di TPS 019, Desa Bojong Koneng, Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat, Rabu (27/11/2024). KPU menargetkan tingkat partisipasi pemilih dalam Pilkada Serentak 2024 mencapai 82 persen. Tribunnews/Jeprima

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Anggota Badan Legislasi DPR RI, Benny Kabur Harman, menegaskan wacana pemilihan kepala daerah (pilkada) melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) bukanlah solusi.

Ia menilai mekanisme itu berisiko membuat demokrasi mundur, mempertahankan masalah klasik, dan merugikan hak rakyat memilih langsung.

Pernyataan Benny ini membuka kembali perdebatan lama yang penuh kontroversi, dan membuat publik bertanya: apakah pilkada lewat DPRD benar-benar jalan keluar atau justru jebakan politik?

Masalah Klasik Pilkada

Benny Kabur Harman menilai pilkada lewat DPRD justru berpotensi mempertahankan masalah klasik seperti tingginya biaya politik, praktik politik uang, dan lemahnya netralitas aparatur negara.

“Menurut saya, kembali ke pilkada oleh DPRD itu bukan solusi,” kata Benny kepada wartawan, Senin (5/1/2026).

Selain duduk di Baleg, Benny juga anggota Komisi III DPR RI dan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat.

Ia mendorong perbaikan Undang-Undang Pilkada agar norma hukum lebih jelas dan memiliki daya paksa. 

“Buat UU Pilkada yang lebih baik. Norma harus jelas dan tegas, dengan sanksi tegas bagi pelanggar,” ujarnya.

Peran Negara dalam Biaya Politik

Benny menekankan negara seharusnya mengambil peran lebih besar dalam membiayai pelaksanaan pilkada.

“Jika tujuan demokrasi adalah kesejahteraan rakyat dan lahirnya pemimpin berkualitas, anggaran tidak boleh jadi alasan untuk mundur dari pemilihan langsung,” ucapnya.

Ia juga mengajak masyarakat tetap optimistis.

“Jangan pernah putus asa berjuang untuk rakyat. Politik itu harus riang gembira,” imbuhnya.

Politik Uang dari Politisi

Pendiri Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), Saiful Mujani, menilai alasan politisi yang menyebut pilkada langsung rawan politik uang adalah tuduhan keliru.

Politik uang merujuk pada praktik pemberian uang untuk memengaruhi pilihan politik.

“Politisi itu sumber politik uang, bukan rakyat. Yang nyebar uang itu calon nggak pantas, nggak kompeten, maksa ingin menang,” tulis Saiful di akun X, Senin (29/12/2025).

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini