Ringkasan Berita:
- Pada tanggal 25 Januari 2026, terdapat 3 peringatan penting di Indonesia maupun dunia.
- Salah satu peringatan penting pada tanggal 25 Januari 2026 adalah Hari Gizi Nasional.
- Selain Hari Gizi Nasional, 2 peringatan lainnya yaitu World Leprosy Day dan Opposite Day.
TRIBUNNEWS.COM - Tanggal 25 Januari 2026 bukanlah hari biasa.
Di balik tanggal ini, terdapat sejumlah peringatan penting yang sarat makna.
Mulai dari isu kesehatan masyarakat, kepedulian terhadap penyakit yang kerap terlupakan, hingga perayaan unik.
Di Indonesia, tanggal ini diperingati sebagai Hari Gizi Nasional, sebuah momentum bersejarah yang menandai lahirnya pendidikan tenaga gizi dan komitmen negara dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Pada saat yang sama, dunia juga memperingati World Leprosy Day (Hari Kusta Sedunia), sebuah ajakan global untuk tidak melupakan penderita penyakit yang kerap terpinggirkan, meski kini dapat disembuhkan.
Tak ketinggalan, Opposite Day (Hari Kebalikan) juga diperingati pada tanggal yang sama sebagai peringatan unik yang mengajak masyarakat berpikir terbalik, mempertanyakan rutinitas, dan menyadari bahwa perubahan sering kali bermula dari keberanian untuk keluar dari kebiasaan lama.
3 Peringatan Penting pada 25 Januari 2026
1. Hari Gizi Nasional
Di Indonesia, tanggal 25 Januari diperingati sebagai Hari Gizi Nasional (HGN), sebuah tonggak penting dalam perjalanan pembangunan kesehatan bangsa.
Peringatan ini berakar dari upaya awal negara dalam memperbaiki kondisi gizi masyarakat pascakemerdekaan, ketika masalah kekurangan gizi masih menjadi tantangan besar.
Sejarah Hari Gizi Nasional tidak dapat dilepaskan dari sosok Prof. Poorwo Soedarmo, yang dikenal sebagai Bapak Gizi Indonesia, dikutip dari ayosehat.kemkes.go.id.
Baca juga: Tanggal 24 Januari 2026 Memperingati Hari Apa? Ada Hari Jadi Pemalang
Pada tahun 1950, Prof. Poorwo Soedarmo diangkat oleh Menteri Kesehatan saat itu, dr. J. Leimena, untuk memimpin Lembaga Makanan Rakyat (LMR).
Lembaga ini sebelumnya dikenal sebagai Instituut Voor Volksvoeding (IVV) dan merupakan bagian dari Lembaga Penelitian Kesehatan atau Lembaga Eijkman.
Momentum penting terjadi pada 25 Januari 1951, saat LMR mendirikan Sekolah Juru Penerang Makanan.
Inisiatif ini menandai dimulainya pengkaderan tenaga gizi Indonesia secara terstruktur.
Sejak saat itu, pendidikan dan profesi tenaga gizi terus berkembang, hingga kini menjadi bagian penting dalam sistem kesehatan nasional dan diajarkan di berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Sebagai bentuk penghormatan atas sejarah tersebut, tanggal 25 Januari kemudian ditetapkan sebagai Hari Gizi Nasional.
Peringatan ini pertama kali diselenggarakan oleh LMR pada pertengahan 1960-an, dilanjutkan oleh Direktorat Gizi Masyarakat sejak 1970-an, dan hingga kini menjadi agenda resmi Kementerian Kesehatan RI.
Pada Hari Gizi Nasional 2026, tema yang diangkat adalah “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal”, yang menekankan pentingnya memanfaatkan sumber pangan dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat kemandirian pangan nasional.
2. World Leprosy Day (Hari Kusta Sedunia)
Selain menjadi momen penting bagi isu gizi, 25 Januari juga diperingati secara global sebagai World Leprosy Day atau Hari Kusta Sedunia, yang jatuh setiap hari Minggu terakhir bulan Januari.
Peringatan ini bertujuan untuk mengingatkan dunia bahwa kusta masih ada, meskipun sering dianggap sebagai penyakit masa lalu, terutama di negara-negara maju.
Kusta, atau yang dikenal sebagai penyakit Hansen, merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae.
Penyakit ini menyerang sistem saraf dan dapat berdampak pada kulit, mata, saluran pernapasan, serta anggota tubuh seperti tangan dan kaki.
Kerusakan saraf yang terjadi sering kali menyebabkan hilangnya sensasi rasa sakit, sehingga penderita tidak menyadari luka atau cedera yang dialaminya.
Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berujung pada kerusakan permanen hingga kehilangan anggota tubuh.
Nama penyakit Hansen diambil dari Gerhard Henrik Armauer Hansen, seorang dokter asal Norwegia yang pertama kali mengidentifikasi bakteri penyebab kusta.
Untuk menyoroti dampak medis sekaligus sosial dari penyakit ini, filantropis asal Prancis Raoul Follereau menetapkan Hari Kusta Sedunia pada tahun 1954, dikutip dari National Today.
Di India, peringatan ini memiliki makna khusus karena diperingati setiap 30 Januari, bertepatan dengan hari wafat Mahatma Gandhi, sebagai bentuk penghormatan atas kepedulian dan empatinya terhadap para penderita kusta.
Meski kini kusta dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat, stigma sosial masih menjadi persoalan serius, terutama di negara-negara dengan jumlah kasus tinggi seperti India, Brasil, dan Indonesia.
Diskriminasi, pengucilan, dan keterbatasan akses layanan kesehatan masih sering dialami penderita.
Melalui Hari Kusta Sedunia, dunia diingatkan untuk tidak melupakan penyakit ini dan memastikan setiap penderita dapat memperoleh pengobatan serta hidup secara bermartabat.
Baca juga: Badan Gizi Nasional Dorong Pelibatan Masyarakat untuk Jamin Pasokan Bahan Baku MBG
3. Opposite Day (Hari Kebalikan)
Di tengah peringatan yang sarat pesan kesehatan dan kemanusiaan, tanggal 25 Januari juga dikenal sebagai Opposite Day atau Hari Kebalikan, sebuah perayaan tidak resmi yang bernuansa humor dan refleksi filosofis.
Sebagian besar pendapat menyebutkan bahwa Hari Kebalikan dirayakan pada 25 Januari, meski ada pula yang meyakini tanggal 7 Januari, bahkan ada yang menganggapnya berlangsung setiap tanggal 25 setiap bulan.
Asal-usul Hari Kebalikan tidak tercatat secara resmi dan lebih berkembang sebagai tradisi populer.
Hari ini sering dipandang sebagai permainan logika sederhana yang memperkenalkan paradoks dengan cara ringan, sehingga kerap disebut sebagai “pelajaran filsafat” dalam versi yang menyenangkan.
Konsep Hari Kebalikan memunculkan pertanyaan menarik: jika hari ini adalah hari kebalikan, maka segala sesuatu seharusnya berlaku sebaliknya.
Namun, kebalikan dari hari kebalikan adalah hari biasa, kalu, apakah Hari Kebalikan benar-benar ada?
Inilah yang membuat peringatan ini terus dikenang.
Salah satu contoh populer tentang “melakukan kebalikan” muncul dalam budaya pop melalui karakter George Costanza dalam serial Seinfeld.
Dalam kisah tersebut, George memutuskan untuk melakukan kebalikan dari semua kebiasaan lamanya dan justru menemukan perubahan positif dalam hidupnya.
(Tribunnews.com/Farra)
Artikel Lain Terkait Hari Gizi Nasional
Baca tanpa iklan