TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah pesatnya perlombaan teknologi dunia, BINUS University mengambil langkah nyata untuk memastikan bahwa inovasi digital tetap berpihak pada kemanusiaan.
Melalui konferensi internasional ICOBAR–SMART 2026 yang digelar pada 5–6 Februari 2026, BINUS menggandeng Korean Institute of Information Technology (KIIT) untuk merumuskan masa depan ekosistem global yang lebih adil.
Mengusung tema besar “Convergence 2026: Smart Governance, Intelligent Business, and Revolutionary Mobility,” forum ini bukan sekadar pertemuan akademik biasa.
Fokus utamanya adalah menjawab tantangan besar: bagaimana kecerdasan buatan (AI) hingga sistem kota cerdas tidak hanya menjadi konsumsi elit teknologi, tetapi benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Teknologi yang Memanusiakan Manusia
Vice Rector of Research and Technology Transfer BINUS University, Prof. Juneman Abraham, menekankan bahwa di usia BINUS yang ke-45 tahun, fokus riset harus bergeser dari sekadar kecanggihan menjadi kebermanfaatan.
“Kami berkomitmen memastikan bahwa inovasi digital tidak hanya berputar di elit teknologi. Teknologi masa depan tidak boleh memperlakukan manusia sekadar sebagai data, melainkan sebagai subjek yang berdaya,” tegas Juneman.
Menurutnya, misi utama kolaborasi ini adalah mempersempit jurang kesenjangan sosial melalui tata kelola yang adaptif dan model bisnis yang patuh regulasi namun tetap inovatif.
Kolaborasi dengan KIIT menjadi poin krusial dalam konferensi ini.
Sebagai lembaga riset raksasa dari Korea Selatan yang menaungi 7.500 peneliti dari 200 universitas, KIIT membawa perspektif teknologi mutakhir ke tanah air.
Prof. Insik Choi, President KIIT, menyambut hangat kemitraan ini.
Ia menilai tantangan keberlanjutan global terlalu besar jika dihadapi sendiri.
Baca juga: BINUS University Dorong Penguatan Literasi dan Etika AI bagi Dosen dalam Transformasi Pendidikan
“Kemitraan antara KIIT dan BINUS memperkuat kontribusi akademik kedua negara dalam menghadirkan solusi yang berdampak global, baik bagi industri maupun kebijakan publik,” ungkapnya.
Sepanjang dua hari konferensi, para ahli mendiskusikan berbagai topik strategis, mulai dari Internet of Things (IoT), smart mobility, hingga digitalisasi rantai pasok.
Tujuannya satu: mengubah riset di atas kertas menjadi aplikasi nyata di lapangan.
Dr. Joice Yulinda Luke, Chair Organizing Committee, berharap pertemuan ini menjadi pemantik kolaborasi jangka panjang.
“Konferensi ini dirancang sebagai ruang temu. Kami ingin gagasan yang lahir di sini terus berkembang bahkan setelah forum berakhir,” ujarnya.
Baca tanpa iklan