TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini tak sekadar menjadi isu keamanan global, tapi juga berdampak langsung pada ratusan jemaah umrah asal Indonesia.
Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dibalas dengan serangan balistik, menyebabkan penutupan ruang udara di sejumlah negara kawasan.
Hal ini berdampak pada jalur penerbangan komersial, termasuk rute menuju dan dari Arab Saudi.
Efek pada jemaah umrah Indonesia: Akibat penutupan ruang udara dan pembatalan penerbangan, ribuan jemaah umrah asal Indonesia tertahan (stranded) di Arab Saudi, terutama di bandara Jeddah dan Madinah.
Akibat jadwal penerbangan yang karut-marut, sejumlah jemaah sempat tertahan (stranded) di Arab Saudi.
Namun, pemerintah memastikan bahwa negara tidak tinggal diam.
Melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Arab Saudi, jemaah yang tertahan kini mendapatkan jaminan akomodasi hingga konsumsi selama menunggu kepastian jadwal pulang.
Pendampingan 24 Jam di Jantung Transportasi
Negara telah menyiagakan "pasukan khusus" untuk memantau situasi secara langsung.
Plt. Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Heni Hamidah, mengungkapkan bahwa tim pemantauan diterjunkan penuh selama 24 jam di dua titik krusial:
- Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah
- Bandara Internasional Prince Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah
"Perwakilan kami melaporkan perkembangan setiap harinya. Sambil menunggu tiket kepulangan tersedia, jemaah dicarikan penginapan di sekitar bandara agar mereka tetap nyaman dan tenang," ujar Heni dalam press briefing di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Masalah jemaah tertahan bukan hanya soal tempat tidur, tapi juga soal logistik dan komunikasi yang intens dengan otoritas setempat.
Heni menegaskan bahwa KBRI terus menjalin koordinasi ketat dengan pihak travel dan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi.
Pemerintah juga sedang bergerak cepat mencari "jalan keluar" dari kemacetan jadwal terbang ini.
"Perwakilan saat ini tengah menjajaki berbagai opsi untuk mengupayakan penerbangan tambahan ke wilayah sana," ungkap Heni optimis.
Langkah ini diambil guna mengantisipasi dampak lanjutan dari situasi keamanan di kawasan yang masih belum stabil.
Dengan adanya pendampingan ini, diharapkan keluarga jemaah di tanah air tidak perlu merasa cemas berlebihan mengenai nasib kerabat mereka yang sedang menjalankan ibadah.
Baca tanpa iklan