Ringkasan Berita:
- Joko Widodo enggan menanggapi pertemuan Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri usai Salat Id di GBK, hanya menjawab singkat kepada media.
- Pertemuan Prabowo dan Megawati di Istana Merdeka disebut berlangsung akrab selama lebih dari dua jam dan dihadiri Puan Maharani.
- Diskusi mereka membahas isu strategis nasional dan geopolitik serta pentingnya dialog demi kepentingan bangsa.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), enggan memberikan komentar terkait pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Momen tersebut terjadi usai Jokowi menunaikan ibadah shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Jami' Al-Bina, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (21/3/2026).
Saat berjalan menuju mobil BMW i7 bernomor polisi BK 1325, awak media sempat melontarkan pertanyaan mengenai tanggapan Jokowi.
"Makasih-makasih," kata Jokowi singkat kepada sambil terus berjalan pelan menuju kendaraannya.
Jokowi meninggalkan lokasi sekira pukul 07.36 WIB bersama istrinya, Iriana Joko Widodo.
Bertemu di Istana
Prabowo dan Megawati bertemu di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (19/3/ 2026).
Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto menyebut, pertemuan tersebut adalah pertemuan dua orang teman lama yang sudah lama tidak duduk bersama.
"Ibu Megawati menyampaikan kepada saya bahwa itu adalah pertemuan teman lama dan berlangsung secara akrab selama lebih dari 2 jam," kata Hasto dalam keterangannya, Kamis.
Dalam momen penting tersebut, Megawati tidak datang sendirian. Ia tampak didampingi oleh putrinya yang juga Ketua DPR RI, Puan Maharani.
Menurut Hasto, kehadiran Puan mempertegas sinyal komunikasi politik yang cair antara kedua belah pihak di level tertinggi pemerintahan.
Baca juga: Megawati Diundang ke Istana Ketemu Prabowo, Ray Rangkuti: Belum Tentu PDIP Mau Gabung Koalisi
Meski dibalut dengan suasana kekeluargaan, Hasto tak menampik bahwa ada hal-hal strategis yang dibicarakan oleh kedua pemimpin tersebut.
Pertemuan dua jam itu nyatanya juga menjadi ruang diskusi serius mengenai persoalan bangsa, negara, hingga dinamika geopolitik global.
"Dibahas hal-hal strategis tentang persoalan bangsa dan negara, serta berbagai persoalan geopolitik," ungkap Hasto.
Hasto menambahkan, dalam diskusi itu, Prabowo tampak menyerap pengalaman luas Megawati saat menjabat sebagai Presiden ke-5 RI, terutama saat membawa Indonesia keluar dari krisis multidimensional.
Prabowo dan Megawati mendiskusikan pentingnya sense of priority dan sense of urgency dalam pengambilan kebijakan negara.
"Demikian juga terkait persoalan geopolitik, khususnya kepeloporan Indonesia dalam Konferensi Asia Afrika (KAA), Gerakan Non-Blok, hingga peran membangun tata dunia baru melalui politik luar negeri bebas aktif," jelas Hasto.
Baca juga: Pengamat Sebut Pertemuan Prabowo dan Megawati Bukan Sekadar Silaturahmi: Ada Konteks Lebih Besar
Bahkan, Megawati juga sempat menceritakan pengalamannya dalam kunjungan terakhir ke Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi kepada Presiden Prabowo.
Hasto menegaskan bahwa PDI Perjuangan melihat pertemuan ini sebagai manifestasi dari kultur bangsa Indonesia, yakni gotong royong.
Menurutnya, dialog dan musyawarah antarpemimpin bangsa adalah hal yang sangat diperlukan demi kepentingan rakyat dan negara.
"Pertemuan antarpemimpin bangsa sebagaimana terjadi dengan Presiden Prabowo dan Presiden Kelima Megawati Soekarnoputri selain sesuai dengan kultur bangsa untuk saling berdialog, juga ditujukan bagi kepentingan rakyat, bangsa, dan negara," tandasnya.
Baca tanpa iklan