Ringkasan Berita:
- Kemacetan di gerbang tol saat Lebaran 2026 dipicu kekurangan saldo e-toll yang menyebabkan antrean panjang.
- MLFF dinilai mampu menghilangkan hambatan transaksi karena sistemnya nirsentuh dan tanpa berhenti.
- Proyek MLFF masih dalam tahap penyempurnaan dan pengujian sebelum diterapkan secara luas.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kemacetan panjang di gerbang tol saat arus mudik dan arus balik Lebaran 2026 kembali terjadi, salah satunya dipicu oleh banyaknya kendaraan yang kehabisan saldo e-toll. Kondisi ini memicu antrean hingga puluhan kilometer, terutama ketika pengendara harus melakukan top up di lokasi.
Pengamat transportasi dari Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Tegal, Anton Budiharjo, menilai penerapan teknologi Multi Lane Free Flow (MLFF) dapat menjadi solusi efektif untuk mengatasi persoalan tersebut. Sistem ini memungkinkan kendaraan melintas tanpa perlu berhenti di gerbang tol.
“Pada sistem konvensional berbasis kartu seperti e-toll, setiap kendaraan harus berhenti untuk tap in dengan waktu layanan sekitar 4–5 detik. Waktu ini bisa meningkat drastis ketika saldo tidak mencukupi,” ujar Anton, Sabtu (28/3/2026).
Ia menjelaskan, kekurangan saldo kerap memicu intervensi petugas untuk membantu pengisian ulang, yang pada akhirnya menambah variasi waktu layanan dan memperparah antrean. MLFF hadir dengan mekanisme transaksi nirsentuh dan nirhenti, sehingga kendaraan dapat melaju tanpa hambatan.
“Teknologi MLFF menghilangkan proses tap in. Kendaraan bisa melaju bebas tanpa perlu berhenti seperti pada sistem e-money saat ini,” tambahnya.
Baca juga: Catat, 7 Daftar Tol yang Terapkan Pembayaraan Tanpa Setop MLFF, Ada Tol Jagorawi
Transaksi dalam sistem MLFF dilakukan secara otomatis melalui teknologi seperti Global Navigation Satellite System (GNSS), Radio Frequency Identification (RFID), hingga Automatic Number Plate Recognition (ANPR) yang terintegrasi dengan sistem backend. Dengan skema ini, antrean di gerbang tol dapat dihilangkan dan arus lalu lintas menjadi lebih lancar, terutama saat volume kendaraan tinggi.
“Waktu layanan kendaraan mendekati nol karena tidak ada lagi barrier maupun proses transaksi di gerbang,” jelas Anton.
Sementara itu, Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, mengungkapkan bahwa selama periode H-10 hingga H+1 Lebaran 2026 (11–22 Maret), terdapat sekitar 21 ribu kendaraan yang mengalami kekurangan saldo e-toll di Gerbang Tol Kalikangkung. Angka ini setara dengan 4,9 persen dari total 442 ribu kendaraan yang melintas.
“Saldo e-toll yang kurang menyebabkan tingginya aktivitas top up di gerbang tol, sehingga menimbulkan penundaan signifikan dan antrean panjang,” kata Rivan.
Kondisi serupa diperkirakan berpotensi terjadi saat arus balik, khususnya di Gerbang Tol Cikampek Utama. Karena itu, pengguna jalan diimbau memastikan saldo e-toll mencukupi sebelum memasuki jalan tol.
Di sisi lain, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo memastikan proyek MLFF tetap berjalan meski sempat menghadapi kendala teknis dan nonteknis.
“MLFF itu tetap berproses. Ada sedikit masalah teknis dan nonteknis, tetapi sudah dibereskan. Karena melibatkan banyak pihak, memang butuh waktu untuk merapikannya,” ujar Dody.
Ia menambahkan, pengujian sistem akan terus dilakukan untuk memastikan kesiapan sebelum implementasi secara luas.
Proyek MLFF sendiri telah diinisiasi sejak 2016 dan dikembangkan oleh Roatex Ltd. melalui PT Roatex Indonesia Toll System (RITS), dengan pendanaan dari pemerintah Hungaria senilai 300 juta dolar AS.
Baca tanpa iklan