News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Mengenal Bapak Pramuka Indonesia: Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Penulis: Muhammad Alvian Fakka
Editor: Endra Kurniawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • Indonesia memiliki Bapak Pramuka Indonesia yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
  • Sri Sultan Hamengku Buwono IX di nobatkan sebagai Ketua Kwartir Nasional (Ka. Kwarnas) yang pertama setelah Ir. Soekarno Presiden Republik Indonesia.
  • Pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 053/TK/Tahun 1990. 

TRIBUNNEWS.COM - Setiap tanggal 12 April terdapat peringatan Hari Bapak Pramuka Indonesia yang tahun ini jatuh pada hari ini Minggu (12/4/2026).

Jika di Inggris ada Bapak Pandu Dunia yakni Lord Baden Powell, di Indonesia memiliki Bapak Pramuka Indonesia yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Pengukuhan Bapak Pramuka Indonesia bermula dari diperkenalkannya Gerakan Pramuka sebagai organisasi kepanduan di Indonesia untuk pertama kali pada 14 Agustus 1961.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX di nobatkan sebagai Ketua Kwartir Nasional (Ka. Kwarnas) yang pertama setelah Ir. Soekarno Presiden Republik Indonesia, menganugrahkan Panji Gerakan Pramuka dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 448 Tahun 1961.

Menurut sumber resmi Pramuka, sejak saat itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjabat sebagai Kwarnas selama empat periode berturut-turut, mulai periode 1961-1963, 1963-1967, 1967-1970 dan 1970-1974.

Kemudian pada Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka Tahun 1988 di Dili (ibu kota Provinsi Timor Timur; saat ini negara Timor Leste) yang mengukuhkan gelar Bapak Pramuka Indonesia kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Tidak hanya itu, ia juga menerima “Bronze Wolf Award”, sebuah penghargaan tertinggi dan satu-satunya dari World Organization of the Scout Movement (WOSM). 

Selain dianugrahi gelar Bapak Pramuka Indonesia, Sultan juga sering mendapat sebutan Pandu Agung karena sosoknya yang mencerminkan seorang guru dan panutan bagi Pramuka Indonesia.

Lantas, bagaimana profil Sri Sultan Hamengku Buwono IX?

Selengkapnya berikut biografi singkat Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang Tribunnews.com rangkum dari berbagai sumber berikut.

Profil Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah modern Indonesia, seorang raja yang tidak hanya mewarisi tahta Kesultanan Yogyakarta, tetapi juga mendedikasikan seluruh hidupnya bagi tegaknya kedaulatan Republik Indonesia. 

Baca juga: Disambut Sri Sultan di Yogya, Presiden Lanjut Bertolak ke Magelang Resmikan Pabrik Mobil Listrik

Dikenal dengan semboyan "Tahta untuk Rakyat", beliau merupakan sosok unik yang mampu menyatukan nilai-nilai tradisi kebangsawanan Jawa dengan semangat demokrasi modern yang progresif. 

Peranannya sangat krusial, mulai dari masa revolusi kemerdekaan hingga stabilisasi politik di era Orde Baru, menjadikannya figur "pemersatu" yang dihormati baik oleh kawan maupun lawan politik.

Masa Muda Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Mengutip dari Buku Biografi Pahlawan Nasional Sultan Hamengku Buwana IX terbitan Dekdikbud tahun 1998, beliau lahir dengan nama Gusti Raden Mas (GRM) Dorojatun pada 12 April 1912 di Yogyakarta.

Ia adalah putra dari Sultan Hamengku Buwono VIII dan Raden Ajeng Kustilah. 

Sejak kecil, Dorojatun dididik dengan perpaduan nilai tradisional Kraton dan pendidikan Barat yang kuat. 

Beliau menghabiskan masa remajanya untuk menuntut ilmu di Belanda, termasuk menempuh pendidikan di Universitas Leiden. 

Pendidikan Barat ini tidak melunturkan jati dirinya sebagai orang Jawa, seperti yang beliau tegaskan dalam pidato penobatannya pada 18 Maret 1940:  "Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, pertama-tama saya adalah dan tetap orang Jawa."

Kiprah di Awal Kemerdekaan: Integrasi Yogyakarta ke RI

Sesaat setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengambil langkah berani dengan mengirimkan telegram dukungan kepada Presiden Soekarno. 

Melalui Amanat 5 September 1945, beliau secara resmi menyatakan bahwa Kesultanan Yogyakarta merupakan bagian dari Negara Republik Indonesia dengan status Daerah Istimewa.

Peran monumental lainnya adalah ketika beliau menawarkan Yogyakarta sebagai Ibu Kota RI pada Januari 1946 saat Jakarta tidak lagi aman akibat agresi Belanda. 

Selama masa ini, beliau tidak hanya menyediakan fasilitas gedung bagi departemen pemerintah, tetapi juga mengorbankan harta kekayaan pribadi dan kas kerajaan.

Tujuannya untuk membiayai gaji pegawai pemerintah pusat serta operasional roda pemerintahan Indonesia yang baru lahir.

Bapak Pramuka Indonesia

Selain di bidang pemerintahan, Sri Sultan memiliki dedikasi luar biasa pada pengembangan pemuda melalui Gerakan Pramuka. 

Sejak tahun 1961, beliau dipercaya memimpin organisasi ini sebagai Ketua Kwartir Nasional pertama selama beberapa periode berturut-turut. 

Beliau berjasa dalam menyatukan berbagai organisasi kepanduan di Indonesia ke dalam satu wadah tunggal. 

Atas jasa-jasanya tersebut, beliau dianugerahi gelar Bapak Pramuka Indonesia dan mendapatkan penghargaan Bronze Wolf Award dari organisasi kepanduan dunia.

Baca juga: Sejarah Lambang Pramuka, Lengkap dengan Makna dari Tunas Kelapa

Falsafah Hidup dan Akhir Hayat

Sri Sultan dikenal memegang teguh falsafah "Satria Pandita", yaitu karakter pemimpin yang ksatria namun tetap memiliki kedalaman ilmu dan kerendahan hati (andhap asor). 

Beliau tetap menjadi tumpuan hati nurani rakyat karena sikapnya yang sangat merakyat meski berstatus sebagai seorang Raja.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX wafat pada 2 Oktober 1988 di Washington DC, Amerika Serikat. 

Atas jasa-jasanya yang luar biasa bagi nusa dan bangsa, pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 053/TK/Tahun 1990. 

Beliau dimakamkan di Pemakaman Raja-Raja Imogiri, Yogyakarta, meninggalkan warisan keteladanan tentang kepemimpinan yang tulus tanpa pamrih.

Riwayat Pekerjaan dan Jabatan Sri Sultan Hamengku Buwono IX:

  • Kepala dan Gubernur Militer Daerah Istimewa Yogyakarta 
  • Menteri Negara pada Kabinet Sjahrir III
  • Menteri Negara pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II
  • Menteri Negara pada Kabinet Hatta I
  • Menteri Pertahanan/Koordinator Keamanan Dalam Negeri pada Kabinet Hatta II 
  • Menteri Pertahanan pada masa RIS 
  • Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Natsir
  • Menteri/Ketua Badan Pemeriksa Keuangan 
  • Ketua Delegasi Indonesia dalam pertemuan PBB tentang Perjalanan dan Pariwisata 
  • Menteri Koordinator Pembangunan 
  • Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi
  • Wakil Presiden Indonesia

Riwayat Pendidikan: 

  • Rijkuniversiteit Leiden, Jurusan Indologie (Ilmu tentang Indonesia), kemudian ekonomi.

(Tribunnews.com/Muhammad Alvian Fakka)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini