TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) berhasil mengevakuasi tujuh nelayan yang terombang-ambing di Selat Makassar selama dua hari karena kapal mereka mengalami kerusakan mesin parah, Kamis (9/4/2026).
General Manager PHM, Setyo Sapto Edi menyatakan, lokasi nelayan dan kapal saat diselamatkan berada sekitar dua mil atau tiga koma dua kilometer dari daratan pesisir kampung Muara Keili, Desa Tani Baru, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
"Alhamdulillah, ketujuh nelayan tersebut ditemukan dalam keadaan selamat meskipun mereka terombang-ambing di laut dengan bekal makanan dan minuman yang terbatas," ungkap Setyo dalam keterangan resminya, Kamis (16/4/2026).
Menurut Setyo, langkah dan keberhasilan penyelamatan para nelayan ini menjadi bukti kepedulian sosial perusahaan dan budaya keselamatan untuk melindungi personel perusahaan maupun masyarakat sekitar.
Dia memastikan di PHM, personel keamanan sudah terlatih dan selalu siaga untuk mengatasi kondisi darurat, melakukan koordinasi yang presisi, hingga mengikuti standar keamanan maritim.
"Bagi kami, keselamatan adalah nilai mutlak yang tidak mengenal batas wilayah operasional. Apa yang dilakukan oleh tim di lapangan adalah cerminan dari komitmen yang tinggi terhadap keselamatan operasi, masyarakat, dan lingkungan," tutur Setyo.
Setyo lantas membeberkan kronologi yang mengakibatkan ketujuh nelayan tersebut mengalami kerusakan mesin pada kapal yang digunakan.
Baca juga: Lifting Akhir 2022 Pertamina Hulu Mahakam Tembus 230 Ribu Barel
Kata dia, mesin kapal yang ditumpangi para nelayan patah di area laut GTS-Q ketika dalam perjalanan dari Samarinda menuju Sepatin.
Setelah mesin mati, para nelayan berusaha mencari titik sinyal telepon untuk meminta bantuan, namun tak kunjung membuahkan hasil. Dua hari berselang, sekitar pukul 19.00 WITA, kabar itu sampai kepada patroli keamanan PHM yang sedang bertugas.
Baca juga: Pemerintah Buka 35.000 Lowongan Kerja untuk Koperasi Merah Putih dan Kampung Nelayan
Meski titik koordinat nelayan berada di luar parameter wilayah patroli rutin, tim keamanan PHM segera mengambil langkah cepat melalui koordinasi dengan tim unit Maritim dan Marine.
"Izin penyisiran pun segera diberikan atas dasar misi kemanusiaan," kata dia.
Petugas langsung menggunakan kapal Patroli Ruhen 27, dan melakukan penyisiran di radius wilayah dua kilometer persegi. Setelah satu jam, tim patroli akhirnya menemukan kapal nelayan yang terombang-ambing tersebut.
Tim segera menggandeng kapal nelayan dan mengevakuasi seluruh korban menuju Kampung Muara Ilo untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dan tempat yang lebih aman.
Baca tanpa iklan