Ringkasan Berita:
- Mendagri Tito Karnavian menyoroti fenomena keretakan hubungan antara kepala daerah dan wakilnya yang sering terjadi dalam waktu singkat setelah menjabat.
- Mendagri menilai keharmonisan kepemimpinan di daerah merupakan faktor krusial dalam menjalankan administrasi pemerintahan.
- Menurut Tito, kemampuan kepemimpinan seorang kepala daerah juga diuji melalui cara mereka menjaga hubungan baik dengan pasangannya di pemerintahan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyoroti fenomena keretakan hubungan antara kepala daerah dan wakilnya yang sering terjadi dalam waktu singkat setelah menjabat.
Hal tersebut disampaikannya dalam acara deklarasi dan pengukuhan pengurus Perpukadesi periode 2026-2031 di Perpusnas, Jakarta Pusat, Senin (4/5/2026).
Baca juga: Mendagri Ungkap Banyak ‘Kepala Daerah Boneka’: Tak Punya Kapabilitas Akhirnya Didikte Sekda
Mendagri menilai keharmonisan kepemimpinan di daerah merupakan faktor krusial dalam menjalankan administrasi pemerintahan.
Namun, ia menyayangkan banyaknya kasus di mana kepala daerah dan wakilnya justru terlibat konflik internal tak lama setelah memenangkan pemilihan.
Menurut Tito, kemampuan kepemimpinan seorang kepala daerah juga diuji melalui cara mereka menjaga hubungan baik dengan pasangannya di pemerintahan.
Ia menyebut konflik ini sering kali muncul karena persoalan pembagian peran dan kapabilitas kepemimpinan.
"Bagaimana dengan kemampuan meningkatkan kapabilitas leadership dari kepala daerah untuk ngelola ketika sudah terpilih bisa mengelola administrasi pemerintahannya sebagai Forkopimda menjaga hubungan baik dengan wakil banyak juga yang langsung bertempur ini Pak," ujar Tito Karnavian dalam sambutannya.
Tito menambahkan bahwa situasi panas ini menghambat efektivitas tata kelola birokrasi di daerah. Ia mendorong para pemimpin daerah agar lebih fokus pada pelayanan masyarakat dibandingkan terjebak dalam perselisihan jabatan.
Di sisi lain, Tito menyebut banyak pemimpin daerah yang terpilih hanya mengandalkan popularitas namun tidak memahami tugas administratif, sehingga operasional pemerintahan justru dikendalikan oleh bawahannya.
Baca juga: Bibit Waluyo Sentil Pemimpin Tak Jujur: Kalau Neko-neko Tak Thuthuki Nanti
Tito menjelaskan bahwa euforia kemenangan dalam Pilkada seringkali tidak dibarengi dengan pemahaman manajerial yang memadai. Hal ini mengakibatkan kepala daerah tersebut kehilangan kendali atas jalannya roda pemerintahan.
"Banyak kita temukan euforia setahun euforia tapi nggak ngerti (memimpin) akhirnya didikte oleh Sekda dan lain-lain," ujar Tito Karnavian dalam sambutannya.
Ia menilai pemilihan kepala daerah saat ini masih didominasi oleh faktor elektabilitas semata. Kondisi tersebut membuat mereka yang terpilih tidak selalu memiliki latar belakang atau kemampuan birokrasi yang mumpuni.
"Nggak semua kepala daerah yang terpilih itu betul-betul dia mumpuni, dia terpilih karena mungkin kemampuan kampanyenya tim suksesnya, elektabilitas karena dia populer dia terpilih tapi begitu terpilih kapabilitas berat," pungkasnya.
Baca tanpa iklan