Ringkasan Berita:
- Panitia kurban tidak boleh menerima daging sebagai upah kerja.
- Daging kurban harus diprioritaskan untuk fakir miskin dan masyarakat yang berhak.
- Panitia tetap boleh menerima daging sebagai hadiah, bukan bayaran.
TRIBUNNEWS.COM - Menjelang Hari Raya Idul Adha, pembagian daging kurban menjadi salah satu hal yang sering dipertanyakan masyarakat.
Salah satu pertanyaan yang paling banyak muncul adalah apakah panitia kurban boleh mendapatkan bagian daging kurban.
Dikutip dari Baznas, panitia kurban pada dasarnya boleh menerima daging kurban.
Namun, ada aturan penting yang harus dipahami agar pembagian tetap sesuai syariat Islam.
Dalam Islam, pembagian hewan kurban memiliki tujuan utama untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, terutama fakir miskin.
Selain itu, daging kurban juga dapat dibagikan kepada kerabat, tetangga, dan sebagian untuk orang yang berkurban beserta keluarganya.
Secara umum, para ulama menjelaskan pembagian daging kurban dianjurkan menjadi tiga bagian, yaitu:
- Sepertiga untuk orang yang berkurban dan keluarganya
- Sepertiga untuk kerabat atau tetangga
- Sepertiga untuk fakir miskin
Meski demikian, pembagian tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Baca juga: Hukum Menjual Daging Kurban, Haram atau Boleh? Ini Penjelasannya
Bahkan, sebagian ulama membolehkan seluruh daging diberikan kepada fakir miskin apabila dianggap lebih bermanfaat.
Terkait panitia kurban, Baznas menjelaskan bahwa panitia maupun tukang jagal tidak diperbolehkan menerima bagian daging kurban sebagai upah kerja.
Hal ini karena daging kurban merupakan bagian dari ibadah yang tidak boleh diperjualbelikan atau dijadikan alat pembayaran jasa.
Larangan tersebut juga didasarkan pada hadis Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa tukang jagal tidak boleh diberi upah dari bagian hewan kurban.
Karena itu, jika panitia atau penyembelih ingin diberikan honor, maka sebaiknya menggunakan dana lain di luar hewan kurban.
Meski begitu, panitia tetap boleh menerima daging kurban apabila diberikan sebagai hadiah atau sedekah, bukan sebagai bentuk pembayaran atas pekerjaan mereka.
Dengan kata lain, status pemberiannya harus jelas agar tidak menyalahi aturan syariat.
Baznas juga mengingatkan masih banyak kesalahan yang terjadi dalam pembagian hewan kurban.
Salah satunya adalah memberikan bagian kurban secara berlebihan kepada keluarga atau kerabat sendiri tanpa memperhatikan masyarakat yang lebih membutuhkan.
Selain itu, ada juga praktik menjual kulit atau bagian tertentu dari hewan kurban untuk kebutuhan operasional.
Padahal, tindakan tersebut tidak diperbolehkan karena seluruh bagian hewan kurban seharusnya dibagikan dan tidak diperjualbelikan.
Agar pembagian daging kurban berjalan baik, panitia dianjurkan membuat daftar penerima yang benar-benar membutuhkan.
Koordinasi antarpanitia juga penting agar distribusi daging lebih merata dan tidak ada warga yang menerima berlebihan sementara lainnya tidak kebagian.
Baznas menilai pembagian hewan kurban bukan hanya soal distribusi makanan, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Karena itu, proses pembagian harus dilakukan secara adil, tertib, dan sesuai tuntunan agama.
Dengan memahami aturan ini, masyarakat diharapkan tidak lagi salah paham mengenai hak panitia kurban terhadap daging kurban.
Ibadah kurban pun dapat berjalan lebih baik, penuh keberkahan, dan sesuai syariat Islam.
(Tribunnews.com/Widya)
Baca tanpa iklan