TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) harus memiliki jalan keluar, melakukan pengawasan proses pemilu, di tengah peran media yang sudah mandul karena terenggut oleh pemilik modal yang berafiliasi dengan partai politik.
"Media sudah dikuasi kepentingan partai. Maka Bawaslu harus merebut pengguna facebook dan twitter. Gunakan media ini untuk kampanye habis-habisan," ungkap rohaniawan Katolik, Romo Benny Susetyo dalam sarasehan nasional Bawaslu di Jakarta, Rabu (22/1/2014).
Menurutnya, menggaet relawan atau aktifis dunia maya sebagai pengawas proses pemilu, sangat penting terutama dalam pelaksanaan hari pemungutan suara pada 9 April 2014. Ketika fungsi pengawasan media sudah tak bisa diandalkan, peran para blogger, pengguna twitter dan facebook bisa diberdayakan.
Peran serta mereka, bisa menjadi saksi mata pengawas independen atas pelanggaran yang dilakukan parpol dan petugas pemungutan suara. Bisa dengan memfoto dan menyebarkannya di dunia maya atau sebagainya. Karena kerap kali persekongkolan terjadi antara parpol dan petugas lapangan.
"Gunakan matrik untuk menjelaskan pihak-pihak yang menyalahgunakan pemilu. Karena jamannya sudah begitu. Untuk memutus itu, bikin gerakan, relawan facebook, twitter, untuk melawan mereka. Ini jumlahnya besar karena banyak anak muda mau," terangnya.
Cara demikian, sambung Romo Benny, adalah upaya perlawan atas peran media yang saat ini sudah tidak netral menyusul keberadaan mereka dicaplok oleh kekuasaan para pemodalnya.
Bawaslu bisa mengumpulkan dan menjangkau para aktifis dunia maya ini. Mereka bisa dilatih untuk menuliskan dan melaporkan pelanggaran yang dilihat dan ditemukan di lapangan. Tak kalah, peran Pramuka dan Menwa juga bisa dilibatkan karena militansinya.
Baca tanpa iklan