News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Pemilu 2014

SBY Diimbau Jangan Terlalu Lama Lihat Peta Koalisi

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Rendy Sadikin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono bersama keluarga saat usai mencoblos dan memmberikan keterangan lokasi PTS di Cikeas, Bogor, Rabu (9/4/2014)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Eksekutif PolcoMM Institute Heri Budianto berpendapat Partai Demokrat (PD) di bawah kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jangan terlalu lama menunggu langkah dan melihat arah pergerakan koalisi Partai Politik (parpol) lain.

Mestinya jangan terlalu lama, menurut Pakar komunikasi Politik ini, SBY selaku Ketua Umum PD menunggu situasi politik koalisi. Apalagi, dengan perolehan suara dalam pemilihan legislatif (Pileg) sekitar 9 persen versi hitung cepat, Demokrat masih memegang peranan strategis di tengah tidak adanya partai yang dominan dalam perolehan suara.

"Justru Demokrat dapat menggagas poros baru dengan menawarkan capres alternatif hasil konvensi," ungkap Pengajar Komunikasi Politik Universitas Mercu Buana ini kepada Tribunnews.com, Rabu (16/4/2014).

Kata dia pula, jika dilihat pergerakan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) saat ini yang menawarkan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebagai Cawapres, hal itu dapat ditangkap oleh Demokrat untuk sebagai suatu peluang.

"Memang PKB menyasar PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) dan kemudian alternatif berikutnya Gerindra. Namun itu bisa saja buntu, sebab PDIP dan Gerindra akan melihat sosok yang ditawarkan PKB," ujar Heri.

Nah, kata dia, jika PKB mentah membangun koalisi dengan PDIP atau Gerindra, Demokrat bisa mengajak PKB membuat poros baru dengan menawarkan capres pemenang konvensi berduet dengan Cak Imin. Lalu untuk memperkuat poros koalisi baru ditambah satu partai baru PBB atau PKPI.

Skenario berikutnya, menurut Heri, Demokrat bisa menggagas poros baru dengan Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sebab kedua partai ini lebih nyaman bersama Demokrat.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini