TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rapimnas Golkar akan digelar sekitar awal Mei 2014 nanti. Dari Rapimnas, akan tergambar ke mana partai Beringin ini berkoalisi dan siapa yang akan maju menjadi capres atau cawapres.
Sekjen Partai Republik Heru B. Arifin menyarankan, Rapimnas Golkar tidak mengusung pasangan capres-cawapres sendiri jika tetap mengusung nama Aburizal Bakrie (ARB) sebagai capres. "Jika tetap ARB sebagai capresnya, percayalah, Golkar tidak mungkin bisa memenangkan pertarungan," ujar Heru B Arifin.
Menurut Heru, sebaiknya Rapimnas membahas dua hal. Pertama, memilih nama baru selain ARB. "Nama yang betul-betul baru. Bukan ARB, Akbar Tandjung, atau Jusuf Kalla. Nama alternatif yang bisa diterima publik secara luas dan diasumsikan bisa memenangkan konstestasi Pilpres," ujarnya.
Golkar bisa mengadakan konvensi untuk memilih nama-nama baru ini. "Jika Golkar berani melakukan cara-cara ini, membuka konvensi capres-cawapres, maka Golkar bisa menjadi teladan tradisi meritokrasi dalam demokrasi. Sebaliknya, jika Golkar menolak konvensi, tetap mengusung ARB, sejatinya Golkar tidak pernah melakukan transformasi gaya politik reformasi. Golkar masih pada gaya politik orde baru," tuturnya.
Kedua, jika isu pertama mentok, Golkar sebaiknya berkubu dengan memilih satu di antara dua poros capres, Poros Jokowi atau Poros Prabowo.
Menurut Heru, secara ideologis, kultural, dan historis Golkar tidak akan bisa menjadi satu visi, satu jalan dengan PDI Perjuangan. Meski tak sama, platform politik Golkar lebih dekat ke Gerindra. "Golkar bisa memperkuat posisi dalam Poros Prabowo," ujarnya.
Menurutnya, dengan popularitas Jokowi yang cukup tinggi, berkumpulnya partai-partai selain PDIP dan Nasdem, dalam satu koalisi besar ke Poros Prabowo, persaingan masih sangat seimbang.
Mengapa? "Sebab, medan pertempurannya adalah pemilihan capres, memilih orang, bukan memilih partai politik," tuturnya.
Secara presentasi partai, bisa jadi komposisi PDIP dan Nasdem hanya 26%. Tetapi elektabilitas Jokowi
Secara presentasi partai, bisa jadi komposisi PDIP dan Nasdem hanya 26%. Tetapi elektabilitas Jokowi cukup besar. Sementara gabungan parpol selain PDIP dan Nasdem sekitar 74%, namun elektabilitas Prabowo masih fifty-fifty dengan Jokowi.
Jadi, pertarungan di Pilpres nantinya akan ditentukan berpasangan dengan siapa Jokowi dan Prabowo. "Nama cawapres akan menjadi penentu kemenangan Prabowo atau Jokowi," jelasnya. (*)
Baca tanpa iklan