TRIBUNNEWS.COM - Dalam kehidupan sehari-hari, kata boros hampir selalu bernada negatif. Boros uang, misalnya, sering dikaitkan dengan kebiasaan belanja yang tidak terkontrol dan berujung pada masalah finansial. Boros sumber daya pun tak kalah bermasalah karena berdampak langsung pada lingkungan dan keberlanjutan hidup. Singkatnya, pemborosan dalam bentuk apa pun bukanlah sesuatu yang patut dipelihara.
Namun, pemborosan tidak selalu berkaitan dengan hal-hal yang bersifat materi. Tanpa disadari, pemborosan juga kerap terjadi dalam bahasa, khususnya ketika menyusun kalimat. Banyak orang merasa sudah menulis dengan jelas, padahal di dalam kalimat tersebut terdapat pengulangan makna yang sebenarnya tidak diperlukan. Kata-kata yang berlebihan ini membuat kalimat menjadi lebih panjang, tetapi tidak menambah kejelasan makna.
Pemborosan kata inilah yang dalam kajian kebahasaan dikenal sebagai pleonasme. Pleonasme merujuk pada penggunaan unsur bahasa yang maknanya sudah tercakup oleh kata lain dalam satu kalimat. Alih-alih memperkuat pesan, pleonasme justru membuat susunan kalimat menjadi kurang efektif, terutama dalam konteks tulisan formal seperti artikel, laporan, maupun karya ilmiah.
Pleonasme: Pengulangan yang Tak Perlu
Secara sederhana, pleonasme dapat dipahami sebagai penggunaan kata atau frasa yang sebenarnya tidak lagi diperlukan karena maknanya sudah terwakili oleh unsur lain dalam satu kalimat. Dengan kata lain, pleonasme terjadi ketika sebuah gagasan diungkapkan secara berlebihan tanpa menambahkan informasi baru. Kalimat tetap dapat dipahami, tetapi menjadi lebih panjang dari yang seharusnya.
Penting untuk ditegaskan bahwa pleonasme bukanlah kesalahan fatal dalam berbahasa. Dalam percakapan sehari-hari, penggunaan pleonasme bahkan kerap muncul secara alami dan jarang dipersoalkan. Namun, kehadiran pleonasme sering kali menunjukkan kurangnya kecermatan dalam memilih kata, terutama ketika bahasa digunakan dalam konteks tulisan formal. Di sinilah perbedaan antara bahasa lisan yang spontan dan bahasa tulis yang menuntut ketepatan menjadi sangat jelas.
Ada beberapa alasan mengapa pleonasme sering muncul. Salah satunya adalah kebiasaan bahasa lisan yang terbawa ke dalam tulisan. Saat berbicara, seseorang cenderung mengulang makna untuk memastikan lawan bicara memahami maksudnya. Selain itu, pleonasme juga kerap lahir dari keinginan untuk menegaskan pesan secara berlebihan, meskipun penegasan tersebut sebenarnya tidak diperlukan. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kurangnya kesadaran terhadap fungsi setiap kata dalam kalimat, sehingga penulis tidak menyadari adanya makna yang saling tumpang tindih.
Dalam kajian kebahasaan, pleonasme dapat muncul dalam berbagai bentuk. Ada pleonasme yang bersifat struktural, yakni penggunaan kata tambahan yang tidak mengubah makna dasar kalimat, tetapi hanya menambah panjangnya. Ada pula pleonasme yang bersifat makna, ketika dua kata berbeda digunakan untuk menyatakan satu pengertian yang sama. Kedua bentuk ini sama-sama tidak menimbulkan kesalahan tata bahasa, tetapi membuat kalimat menjadi kurang efisien.
Dampak pleonasme paling terasa dalam tulisan. Kalimat yang mengandung pengulangan makna cenderung bertele-tele, sehingga pesan yang ingin disampaikan menjadi kurang tajam. Dalam konteks tugas sekolah, artikel, atau laporan, pleonasme dapat menurunkan kualitas tulisan karena menunjukkan kurangnya ketelitian penulis dalam mengelola bahasa. Alih-alih memperkuat pesan, penggunaan kata yang berlebihan justru berpotensi melemahkan daya ungkap sebuah kalimat.
Selain berdampak pada kualitas tulisan, pemahaman tentang pleonasme juga memiliki relevansi langsung dengan dunia pendidikan. Bahkan materi mengenai pleonasme muncul dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2025 lalu.
Contoh Pleonasme dalam Kalimat Sehari-hari
Pleonasme sebenarnya sangat mudah ditemukan dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Karena sering terdengar dan digunakan, banyak orang tidak menyadari bahwa kalimat yang diucapkan atau ditulis mengandung pengulangan makna. Padahal, tanpa pengulangan tersebut, pesan tetap dapat dipahami dengan jelas.
Salah satu contoh pleonasme yang kerap muncul adalah kalimat “Jenis-jenis pembelajarannya yaitu adalah …”. Kalimat ini boros kata karena mengandung dua penanda predikat, yakni yaitu dan adalah, yang memiliki fungsi serupa. Untuk menyampaikan informasi yang sama, penggunaan salah satunya sudah cukup, misalnya dengan “Jenis-jenis pembelajarannya yaitu …”.
Contoh berikutnya adalah kalimat “Para pemain saling berhadapan satu sama lain.” Kata berhadapan telah menunjukkan relasi dua arah, sehingga frasa satu sama lain tidak lagi diperlukan. Kalimat ini cukup ditulis menjadi “Para pemain berhadapan” atau “Para pemain saling berhadapan.”
Pleonasme juga sering muncul dalam bentuk pengulangan arah atau makna ruang, misalnya pada kalimat “Dia turun ke bawah.” Kata turun sendiri sudah mengandung arti bergerak ke arah bawah, sehingga penambahan frasa ke bawah menjadi tidak diperlukan. Tanpa tambahan tersebut, kalimat tetap jelas dan bahkan terasa lebih lugas.
Dalam situasi formal maupun semi formal, pleonasme kerap terdengar tanpa disadari. Misalnya, dalam sebuah acara, pembawa acara sering mengucapkan kalimat “Kepada pemenang dipersilakan naik ke atas panggung.” Kalimat ini tidak salah secara tata bahasa, tetapi berlebihan. Kata naik sudah bermakna bergerak ke atas, sehingga cukup diucapkan “dipersilakan naik panggung.”
Selain dalam kalimat, pleonasme juga dapat muncul pada gabungan kata atau frasa tertentu. Beberapa ungkapan terasa wajar di telinga, tetapi sesungguhnya mengandung pengulangan makna. Inilah yang membuat pleonasme kerap luput dari perhatian, karena dianggap sebagai bagian dari kebiasaan berbahasa.
Berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa tanpa pleonasme, makna kalimat tetap tersampaikan dengan baik. Bahkan, kalimat yang lebih ringkas justru membuat pesan terasa lebih tegas dan efisien. Kesadaran terhadap penggunaan kata menjadi kunci agar bahasa yang digunakan tidak hanya benar, tetapi juga cermat.
Hemat Kata, Tepat Makna
Pada akhirnya, bahasa yang baik bukan ditentukan oleh banyaknya kata yang digunakan, melainkan oleh ketepatan makna yang disampaikan. Kalimat yang efektif justru lahir dari pilihan kata yang cermat dan secukupnya. Dalam konteks inilah pleonasme dapat menjadi pengingat bahwa pengulangan makna yang tidak perlu sering kali justru mengaburkan pesan.
Kesadaran terhadap pleonasme penting untuk terus ditumbuhkan, terutama dalam dunia pendidikan dan literasi. Menulis secara efektif bukan sekadar soal kaidah bahasa, tetapi juga mencerminkan cara berpikir yang runtut dan terstruktur. Ketika seseorang mampu memilih kata secara tepat, gagasan pun tersampaikan dengan lebih jelas dan kuat.
Seperti halnya hidup yang bijak tidak dijalani dengan pemborosan, bahasa pun perlu digunakan secara hemat. Tulisan yang baik tidak harus panjang dan bertele-tele, tetapi cukup, tepat, dan kaya makna.
Baca tanpa iklan