News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Langkah Baru Lawan Kanker Pankreas

Editor: Sri Juliati
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Harapan baru kanker pankreas! Ilmuwan CNIO Spanyol temukan terapi 3 obat yang mampu hapus total tumor pada uji praklinis. Mariano Barbacid, ilmuwan senior asal Spanyol yang telah lama dikenal dalam riset biologi molekuler kanker.

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah terobosan penting dalam penanganan kanker pankreas datang dari tim ilmuwan di Pusat Penelitian Kanker Nasional Spanyol (Centro Nacional de Investigaciones Oncológicas/CNIO). 

Penelitian mereka baru-baru ini menarik perhatian komunitas medis internasional karena menunjukkan hasil yang belum pernah dicapai sebelumnya dalam studi praklinis.

Dalam riset yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), para peneliti melaporkan, tumor pankreas pada model hewan percobaan berhasil dihilangkan secara menyeluruh dan bertahan dalam jangka waktu yang lama tanpa muncul kembali. 

Pendekatan yang digunakan berupa kombinasi tiga jenis obat yang dirancang untuk bekerja secara simultan dalam menekan pertumbuhan kanker.

Temuan ini menjadi angin segar di tengah tantangan besar penanganan kanker pankreas, yang selama ini dikenal sebagai salah satu jenis kanker dengan tingkat kematian tinggi dan deteksi yang kerap terlambat.

Mengenal Kanker Pankreas dan Tantangannya di Indonesia

Pankreas merupakan organ penting yang berperan dalam proses pencernaan serta pengaturan kadar gula darah melalui produksi enzim dan hormon seperti insulin. 

Kanker pankreas umumnya berkembang dari sel-sel saluran pankreas (karsinoma duktal pankreas), yang mengalami pertumbuhan tidak terkendali akibat mutasi genetik.

Secara global, kanker pankreas termasuk salah satu penyebab kematian akibat kanker tertinggi.

Gejala pada tahap awal sering tidak spesifik, seperti nyeri perut, penurunan berat badan, dan gangguan pencernaan, sehingga banyak kasus terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut.

Hingga kini, operasi pengangkatan tumor menjadi satu-satunya opsi yang berpotensi memberikan kesembuhan.

Namun, hanya 20 persen pasien yang memenuhi syarat untuk menjalani tindakan bedah saat pertama kali terdiagnosis.

Selebihnya memerlukan pendekatan terapi lain dengan hasil yang umumnya masih terbatas.

Sejumlah faktor risiko turut meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker pankreas, di antaranya kebiasaan merokok, usia di atas 55 tahun, diabetes, obesitas, serta riwayat keluarga. 

Sekitar 10 persen kasus juga berkaitan dengan faktor genetik atau sindrom tertentu. Pola hidup tidak sehat seperti konsumsi alkohol dan kurang aktivitas fisik turut menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Di Indonesia, meski data kanker pankreas secara spesifik belum banyak dipublikasikan, tren kenaikan kasus kanker secara umum menjadi perhatian serius. 

Kementerian Kesehatan memperingatkan potensi peningkatan kasus kanker hingga 70 persen pada 2050 apabila upaya pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat. 

Situasi ini menunjukkan bahwa edukasi, kesadaran risiko, serta akses terhadap inovasi pengobatan menjadi semakin penting dalam menghadapi tantangan kanker, termasuk kanker pankreas.

Baca juga: Rambu-rambu Dokter untuk Pasien Kanker Paru yang Puasa, Syarat, Waktu Minum Obat & Tanda Harus Batal

Kemajuan Medis dalam Penanganan Kanker Pankreas

Salah satu tantangan terbesar dalam terapi kanker pankreas adalah munculnya resistensi terhadap pengobatan. Obat-obatan yang tersedia saat ini kerap kehilangan efektivitasnya dalam hitungan bulan karena sel tumor mampu beradaptasi dan kembali berkembang. 

Kondisi inilah yang selama ini membatasi keberhasilan terapi dan turut berkontribusi pada rendahnya angka kelangsungan hidup pasien, yang masih berada di bawah 10 persen dalam lima tahun setelah diagnosis.

Tim dari Pusat Penelitian Kanker Nasional Spanyol (CNIO) mencoba memutus siklus tersebut melalui pendekatan berbeda yaitu dengan terapi kombinasi tiga obat yang menargetkan jalur molekuler kanker secara simultan. Strategi ini dirancang untuk mencegah tumor mengembangkan resistensi, yang selama ini menjadi hambatan utama terapi berbasis target.

Sejak 2021, terapi yang menargetkan gen KRAS (gen yang bermutasi pada sekitar 90 persen kasus kanker pankreas) mulai disetujui penggunaannya. Namun efektivitasnya masih terbatas karena tumor kembali kebal dalam waktu relatif singkat. 

Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), tim yang dipimpin Mariano Barbacid mengembangkan strategi dengan memblokir jalur KRAS pada tiga titik sekaligus, bukan hanya satu. Pendekatan ini diibaratkan seperti memperkuat struktur dari beberapa sisi agar tidak mudah runtuh.

Pada model hewan dengan kanker pankreas tipe paling umum, yaitu pancreatic ductal adenocarcinoma (PDAC), kombinasi tiga obat yang terdiri dari inhibitor KRAS eksperimental (daraxonrasib), obat yang telah disetujui untuk jenis kanker paru tertentu (afatinib), serta agen penghancur protein (SD36) menunjukkan hasil signifikan. 

Tumor mengalami regresi kuat dan bertahan lama tanpa muncul kembali, serta tidak menimbulkan toksisitas berarti pada hewan percobaan.

Para peneliti menyebut temuan ini sebagai langkah awal yang membuka jalan bagi desain terapi kombinasi baru yang berpotensi meningkatkan angka harapan hidup pasien. 

Namun, mereka juga menegaskan bahwa terapi ini masih berada pada tahap penelitian praklinis. Optimalisasi lebih lanjut masih diperlukan sebelum dapat memasuki tahap uji klinis pada manusia.

Sosok Dokter di Balik Inovasi Penelitian

Di balik terobosan terapi kombinasi tersebut, terdapat nama Mariano Barbacid, ilmuwan senior asal Spanyol yang telah lama dikenal dalam riset biologi molekuler kanker. 

Ia meraih gelar doktor dari Universidad Complutense Madrid pada 1974, kemudian melanjutkan pelatihan pascadoktoral di National Cancer Institute, Amerika Serikat.

MARIANO BARBACID - Mariano Barbacid, ilmuwan senior asal Spanyol yang telah lama dikenal dalam riset biologi molekuler kanker. (HO/IST/lorgen.com)

Karier ilmiahnya menanjak pada 1982 ketika ia berhasil mengisolasi onkogen manusia pertama serta mengidentifikasi mutasi genetik yang berkaitan langsung dengan perkembangan kanker. 

Penemuan tersebut menjadi tonggak penting dalam memahami dasar molekuler kanker pada manusia. Ia juga berkontribusi dalam mengungkap hubungan antara paparan karsinogen dan mutasi genetik tertentu, yang memperkuat landasan ilmiah studi epidemiologi kanker modern.

Pada 1998, ia kembali ke Spanyol untuk mendirikan dan memimpin Centro Nacional de Investigaciones Oncológicas (CNIO). Di bawah kepemimpinannya, CNIO berkembang menjadi salah satu pusat riset kanker terkemuka di dunia. 

Sejak 2011, ia kembali fokus pada riset dasar untuk mengembangkan strategi terapi baru bagi tumor dengan mutasi KRAS, termasuk kanker pankreas.

Harapan Baru dan Pentingnya Edukasi Kesehatan

Terobosan terapi kombinasi yang dikembangkan tim CNIO memang masih berada pada tahap penelitian praklinis. 

Namun, hasil yang ditunjukkan regresi tumor secara menyeluruh dan minimnya efek samping pada model hewan, memberikan harapan baru di tengah tantangan besar penanganan kanker pankreas. 

Setelah puluhan tahun dengan kemajuan yang relatif terbatas, pendekatan yang menargetkan jalur molekuler secara lebih komprehensif mulai membuka arah baru dalam strategi terapi.

Perkembangan riset ini sekaligus menegaskan bahwa kemajuan ilmu kedokteran lahir dari proses panjang, kolaborasi lintas disiplin, dan keberanian mengeksplorasi pendekatan baru. 

Dunia membutuhkan lebih banyak ilmuwan yang tekun meneliti hingga ke tingkat molekuler untuk menemukan solusi atas penyakit-penyakit kompleks seperti kanker pankreas.

Kemajuan sains mungkin tidak selalu instan, tetapi setiap langkah penelitian membawa dunia lebih dekat pada peluang hidup yang lebih baik bagi para pasien. Dan dari sanalah harapan itu terus tumbuh. (*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini