News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Rumah Moderasi Beragama UIN RM Said Dorong Tradisi Literasi Lintas Iman di Salatiga

Editor: Sri Juliati
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PELATIHAN MENULIS - Santri dan komunitas lintas iman di Salatiga mengikuti pelatihan menulis dari Rumah Moderasi Beragama (RMB) UIN Raden Mas Said Surakarta untuk merekam praktik toleransi beragama di Pondok Pesantren Nurul Asna, Salatiga, Jawa Tengah, Sabtu (4/10/2025).

TRIBUNNEWS.COM - Rumah Moderasi Beragama (RMB) UIN Raden Mas Said Surakarta menggelar pelatihan menulis di Salatiga, Sabtu (4/10/2025).

Kegiatan ini dilakukan untuk mendokumentasikan praktik baik moderasi beragama serta kehidupan masyarakat di kota yang dikenal sebagai salah satu yang paling toleran di Indonesia.

Kegiatan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Nurul Asna dan menjadi bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) para akademisi UIN.

Melalui pelatihan ini, RMB berupaya menumbuhkan tradisi literasi yang mampu merekam praktik toleransi antarumat beragama di Salatiga.

Ketua RMB, Dr. Bakhrul Amal, menekankan pentingnya agenda ini.

“Salatiga sering disebut sebagai kota paling toleran, tetapi belum banyak tulisan yang menggambarkan praktik keseharian masyarakat lintas agama di sini. Karena itu, kegiatan ini penting dilakukan,” ujarnya.

Pelatihan menghadirkan para santri dan sekitar 10 komunitas lintas iman di Salatiga.

lihat foto PELATIHAN MENULIS - Ketua Rumah Moderasi Beragama (RMB) UIN Raden Mas Said Surakarta, Dr. Bakhrul Amal saat menyampaikan materi dalam pelatihan menulis di Pondok Pesantren Nurul Asna, Salatiga, Jawa Tengah, Sabtu (4/10/2025).

Tim pelaksana, Syafawi Ahmad Qadzafi, menjelaskan bahwa keterlibatan berbagai komunitas bertujuan memberi ruang berbagi pengalaman antaragama dalam kehidupan sehari-hari.

“Banyak komunitas memiliki pengalaman berharga dalam membangun toleransi, tetapi pengalaman itu jarang terdokumentasi.'

"Dengan pelatihan ini, kami ingin membantu mereka menuliskan pengalaman tersebut agar bisa dipelajari masyarakat luas,” ungkap Qadzafi.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Asna sekaligus tuan rumah kegiatan, Gus Azmi, juga menyambut baik inisiatif ini.

Lulusan salah satu universitas di Sudan tersebut menilai bahwa kegiatan literasi memiliki peran penting dalam menjaga warisan intelektual dan nilai kebajikan dalam kehidupan beragama.

“Orang yang berilmu tetapi tidak menulis akan mudah dilupakan. Karena itu, menulis adalah cara untuk mengekalkan pengetahuan dan pengalaman,” katanya.

Melalui pelatihan ini, RMB UIN Raden Mas Said berharap lahir lebih banyak catatan dan kisah nyata dari para pelaku kehidupan lintas iman di Salatiga—kota yang selama ini dikenal sebagai simbol harmoni dan toleransi di Indonesia. (*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini