News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ternyata Baru Ada Satu Guru Besar di 12 Kampus Buddha, Kemenag Ungkap Fakta Ini

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Acos Abdul Qodir
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

GURU BESAR BUDDHA – Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI, Supriyadi, ditemui pada HUT Bimas Buddha ke-20 di kantor Kemenag RI, Jakarta, Rabu (15/10/2025). Ia mengungkap baru satu guru besar di 12 kampus Buddha, menyoroti ketimpangan akademik dan dorongan transformasi kelembagaan.

Ringkasan Berita:

  • Kemenag ungkap sejauh ini hanya ada satu guru besar di 12 perguruan tinggi Buddha di Indonesia.
  • Guru besar tersebut berasal dari STABN Raden Wijaya, Wonogiri.
  • Kemenag dorong percepatan jabatan akademik dan transformasi kelembagaan.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Kementerian Agama (Kemenag) mengungkapkan bahwa dari 12 perguruan tinggi keagamaan Buddha (PTKB) di Indonesia, baru satu yang memiliki guru besar.

Fakta ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi, dalam peringatan Hari Ulang Tahun Bimas Buddha ke-20 di kantor Kemenag RI, Jakarta, Rabu (15/10/2025).

Guru besar tersebut berasal dari Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya di Wonogiri, Jawa Tengah.

Sementara itu, para akademisi lain di lingkungan PTKB masih berada pada jenjang lektor kepala, yaitu satu tingkat di bawah guru besar dalam struktur jabatan akademik dosen di Indonesia.

“Memang dalam hal perguruan tinggi kita masih cukup tertinggal, karena PTKB kita itu baru punya satu guru besar dari 12 PTKB yang ada,” ujar Supriyadi.

Menurut data Kemenag yang dirilis melalui Portal Satu Data Indonesia, jumlah dosen di PTKB masih terbatas, dan distribusinya tidak merata di seluruh provinsi. Hal ini berdampak pada lambatnya pemenuhan syarat kenaikan jabatan akademik, termasuk publikasi ilmiah bereputasi.

“Mudah-mudahan nanti dari kita perhatikan berapa ketentuan yang penuhi, kita akan coba dorong dengan beberapa aktivitas bersama langkahnya,” kata Supriyadi.

Ia menambahkan, salah satu tantangan utama adalah pemenuhan publikasi ilmiah yang terindeks Scopus—yaitu basis data internasional yang memuat jurnal ilmiah bereputasi dan menjadi salah satu syarat utama untuk pengajuan guru besar di Indonesia.

“Kita dorong adalah satu dari kualifikasi karena rata-rata dari sisi pemenuhan dari jurnal indeks Scopus,” ujarnya.

Baca juga: Suhu Panas Ekstrem di Cirebon Tembus 37,6 Celsius, Warga Ramai-ramai Ngadem ke Minimarket

Selain mendorong kenaikan jabatan akademik, Kemenag juga tengah memproses transformasi kelembagaan STAB Negeri Sriwijaya menjadi Institut Agama Buddha Negeri Sriwijaya. Proses tersebut telah melalui asesmen dari Kementerian PAN-RB dan ditargetkan rampung tahun ini.

“Realisasi tahun ini kita sedang berproses jadi transformasi dari STAB Negeri Sriwijaya ke Institut Agama Buddha Negeri Sriwijaya. Mudah-mudahan akan dapat diselesaikan karena sudah ada asesmen dari Kementerian PAN-RB. Sehingga kita tinggal diproses,” jelas Supriyadi.

Kemenag juga menargetkan penguatan pendidikan Buddha dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi, mulai dari:

  • Nava Dhammasekha (setara PAUD),
  • Mula Dhammasekha (setara SD),
  • Muda Dhammasekha (setara SMP),
  • Uttama Dhammasekha (setara SMA).

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem pendidikan agama Buddha secara menyeluruh, dari akar hingga jenjang akademik tertinggi.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini