TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Upaya pengurangan sampah plastik terus berkembang melalui berbagai inovasi, salah satunya adopsi furnitur berbahan daur ulang di lingkungan pendidikan.
Pemerintah mencatat meningkatnya minat pasar terhadap produk furnitur ramah lingkungan, khususnya yang memanfaatkan material daur ulang seiring menguatnya kesadaran masyarakat terhadap konsep ekonomi sirkular.
Peningkatan minat tersebut mendorong produsen lokal mengembangkan material alternatif, termasuk plastik pascakonsumsi, untuk menjawab persoalan limbah yang kian mengkhawatirkan.
Baca juga: Asosiasi Bank Sampah: Penguatan Hulu Mutlak untuk Menjamin Efektivitas PSEL
Tren inovasi pun terlihat dalam bentuk furnitur modular, knock-down, hingga meja dan kursi berbahan kemasan plastik bekas.
Pendiri Blue Generation, Maddison Kurniawan, menilai bahwa tantangan lingkungan global menuntut hadirnya solusi yang tidak hanya inovatif secara teknologi, tetapi juga melibatkan masyarakat dalam upaya pengelolaan limbah.
“Perlu hadir solusi yang mendorong partisipasi aktif dalam mengurangi limbah, memanfaatkan kembali material, dan menciptakan dampak positif bagi lingkungan,” ujarnya, Rabu (10/12/2025).
Sebagai implementasi dari gagasan tersebut, Blue Generation berkolaborasi dengan Happy Hearts Indonesia untuk mendonasikan seperangkat fasilitas belajar berbahan dasar plastik daur ulang kepada salah satu sekolah di Jakarta.
Inisiatif ini tidak hanya menyediakan sarana belajar, tetapi juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya pengurangan sampah plastik sejak usia dini.
Dalam kegiatan donasi tersebut, Blue Generation menyerahkan 20 set meja dan kursi kepada SMP Yaspi di Jakarta Utara.
Setiap set membutuhkan sekitar 15 kilogram plastik daur ulang, sehingga total 300 kilogram atau sekitar 27.000 botol plastik berhasil dialihkan dari potensi menjadi limbah.
“Kami ingin membangun budaya tanggung jawab terhadap lingkungan sekaligus memudahkan masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan mendaur ulang,” kata Maddison.
Meskipun kontribusi ini belum sebanding dengan volume sampah plastik nasional yang mencapai jutaan ton per tahun, inisiatif tersebut diharapkan dapat menjadi model kolaborasi antara sektor swasta, lembaga pendidikan, dan komunitas untuk mengurangi beban lingkungan.
Literasi Sampah Plastik Lewat Pengalaman Nyata
Pendiri Blue Generation lainnya, Dylan Michael Jaya, menjelaskan bahwa Indonesia menjadi fokus utama program karena tingginya tingkat polusi plastik, khususnya di kawasan perkotaan dan pesisir.
Untuk memperkuat pesan edukasi, Blue Generation juga mengadakan lokakarya dan praktik daur ulang di sekolah penerima donasi.
Para siswa diajak mengenal proses daur ulang mulai dari pemilahan sampah, pengolahan plastik menjadi pellet, hingga pembentukan produk furnitur.
“Dengan memberi pengalaman nyata tentang bagaimana sampah diolah menjadi barang berguna, kami berharap kesadaran itu bertahan seumur hidup,” kata Dylan.
Baca tanpa iklan