TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia menegaskan posisinya sebagai lokomotif transformasi pendidikan Islam di tanah air.
Melalui Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) 2026 yang digelar di Hotel Ibis Style Mangga Dua, Jakarta (16–18/1/2026), JSIT Indonesia resmi memantapkan langkah strategis untuk mencetak generasi unggul yang berdaya saing global.
Mengusung tema “Kolaborasi dan Inovasi untuk Penguatan Mutu dan Pendidikan Karakter Menuju Kejayaan Indonesia”, forum ini menjadi ruang bagi para penggerak pendidikan dari seluruh penjuru negeri untuk menyatukan visi.
Dalam sambutannya, Ketua Umum JSIT Indonesia, Ahmad Fikri, menekankan bahwa esensi dari pertemuan ini bukanlah sekadar urusan administratif, melainkan sebuah ikhtiar besar bagi peradaban.
Ada pesan menyentuh yang ia sampaikan mengenai nilai di balik sebuah pengabdian:
“Musyawarah bukan tentang siapa yang paling cerdas atau paling pintar, tetapi tentang siapa yang paling ikhlas dalam bekerja melalui dunia pendidikan,” ujar Fikri dengan tegas.
Ia menambahkan bahwa semangat "Nasional" dalam Mukernas ini mengandung makna tanggung jawab besar.
Menurutnya, dampak dari kerja-kerja JSIT tidak boleh terjebak pada sekat wilayah atau golongan, melainkan harus mampu menyentuh setiap sudut Indonesia.
Baca juga: JSIT Indonesia Salurkan Bantuan untuk Guru dan Sekolah Terdampak Bencana di Aceh
Lebih dari sekadar diskusi, Mukernas 2026 dirancang untuk melahirkan kebijakan pendidikan yang adaptif. Beberapa poin utama yang menjadi fokus adalah:
- Sinergi Antarwilayah: Mengintegrasikan gagasan inovatif dari pengurus pusat hingga wilayah.
- Penguatan Karakter: Memastikan kurikulum pendidikan Islam tetap relevan dengan tantangan modern tanpa kehilangan jati diri.
- Inovasi Berkelanjutan: Menyiapkan sekolah-sekolah SIT sebagai pusat keunggulan (center of excellence).
Acara ini turut dihadiri oleh Ketua Majelis Tinggi JSIT Indonesia, Sukro Muhab, beserta jajaran pimpinan pusat dan perwakilan wilayah dari seluruh Indonesia.
Kebersamaan ini memperlihatkan soliditas organisasi dalam mengawal mutu pendidikan.
Fikri menutup pesannya dengan pengingat yang mendalam bagi seluruh peserta.
Bagi JSIT, mengelola sekolah bukan sekadar profesi, melainkan amanah yang akan terus diperjuangkan.
“Kerja kita tidak akan pernah berhenti, kecuali saat kematian menjemput. Sekolah-sekolah di seluruh Indonesia adalah amanah kita bersama untuk kita majukan demi kejayaan Indonesia di masa depan,” pungkasnya.
Baca tanpa iklan