Laporan langsung wartawan Kompas.com, Hery Prasetyo, dari Afrika
Selatan *)
PRETORIA - Siang yang terang benderang
di Monumen Voortrekker, Pretoria, Afrika Selatan, Minggu (13/6/2010).
Tapi, suhu masih berkisar 18 derajat celcius. Hawa masih terasa dingin
buat ukuran orang Indonesia.
Monumen yang megah dan dibangun dari
batu granit itu menjadi salah satu tujuan wisata para suporter sepak
bola dari penjuru dunia. Beberapa suporter sengaja menyempatkan diri
datang ke monumen tersebut, selagi timnya belum bertanding.
Harga
tiket masuk memang tak tergolong murah. Satu orang harus membayar 40
rand (sekitar Rp 52 ribu). Namun, banyak pengunjung yang datang demi
merasakan dan menikmati monumen untuk mengenang migrasi warga kulit
putih atau Afrikaan yang tinggal di Afrika Selatan, ke wilayah sebelah
timur negara itu. Migrasi tersebut terjadi sejak abad ke-18 sampai 19.
Namun,
ada peristiwa unik yang dialami Kompas.com saat mengunjungi
monumen tersebut. Saat masuk ke monumen tersebut, tak ada penyambutan
apa pun. Monumen itu hanya dijaga beberapa orang pria dan tak akan
bicara jika tak ditanya.
Begitu pulang, tiba-tiba di gerbang
depan dekat tangga ada wanita muda berpakaian Eropa abad 17-an. Dia
menyapa dengan ramah.
"Selamat siang, semoga Anda menikmatinya,"
katanya.
Karena menarik, Kompas.com pun memotretnya.
Bahkan, kemudian saya berfoto bersama dan sempat menanyakan namanya.
"Anery," jawabnya.
Nama kuno khas Eropa yang sekarang jarang
dipakai. Namun, dia dengan senyum manis meyakinkan saya bahwa itu benar
namanya.
Ketika pulang, saya menunjukkan foto itu kepada staf
KBRI di Pretoria, Jaka Widiatmadja. Saya ceritakan, ternyata ada gadis
berdandan pakaian Eropa kuno yang menyapa kala saya keluar dari monumen
tersebut.
Jaka langsung melihat foto itu. Dia kaget, karena itu
sangat aneh. Apalagi, dia kemudian mengamati wajahnya yang memang agak
misterius.
Istri Jaka, Yulia, bahkan mulai ketakutan. Dia pun
berpikir jangan-jangan itu bukan manusia, melainkan mahluk halus. Sebab,
selama 15 tahun tinggal di Pretoria, belum pernah ada wanita berpakaian
Eropa kuno yang menyambut pengunjung di Monumen Voortrekker.
"Mas,
saya sudah puluhan kali mengantar tamu ke museum itu, tapi tak pernah
ada wanita itu. Sejak 15 tahun tinggal di sini, saya belum pernah
melihat wanita itu. Kalaupun ada, itu hanya terjadi pada 16 Desember,
ketika matahari tepat di atas monumen tersebut," jelas Jaka.
Tanggal
16 Desember memang istimewa buat monumen tersebut. Tepat pukul 12.00
pada tanggal itu, matahari tepat di atas monumen dan sinarnya menembus
lubang kubah dan mengenai altar di bawahnya.
Saya pun meyakinkan,
itu benar-benar manusia. Sebab, faktanya, dia bisa dipotret. Namun,
Jaka dan istrinya tetap heran, karena tidak biasanya ada wanita
tersebut.
Tentu, ini perlu dikonfirmasi ke pihak pengelola.
Sayangnya, saya mendapat cerita itu setelah tak lagi di museum tersebut.
Sementara, monumem itu jaraknya cukup jauh dari pusat Kota Pretoria.
Namun,
monumen itu memang terkesan angker dan seram. Banyak yang percaya, di
monumen itu terdapat banyak jenasah para imigran yang tewas karena
perang atau sakit. Bahkan, di dekat monumen itu juga ada monumen kecil
yang berisi nama-nama korban perang selama migrasi yang disebut
Voortrekker (Perjalanan Hebat).
"Jangan-jangan, wanita itu arwah
orang kulit putih Afrika zaman dulu yang muncul kembali," kata Yulia,
sambil pergi masuk rumah karena takut melihat foto itu. Sebab, dia yakin
rasanya tak mungkin ada orang yang berpakaian Eropa kuno di monumen
itu.
Ah, sepertinya ingin mengulang lagi datang ke monumen
tersebut untuk mencari kejelasan dan memastikannya. Tapi, karena banyak
tugas, terpaksa dilupakan dulu, atau setidaknya ditunda. Entah wanita
benaran atau hantu, yang pasti sudah kepotret. (*)
*) Wartawan Tribun bersama 7 wartawan Kompas-Gramedia saat ini berada di Pretoria untuk mengabarkan langsung Paiala Dunia 2010
Wanita Aneh di Monumen Pretoria
Editor: Iwan Apriansyah
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan