TRIBUNNEWS.COM - SEBUT saja Alfredo di Stefano, George Best, Eric Cantona, Ryan Giggs, dan George Weah. Meski berjaya di kompetisi Eropa, mereka tak pernah merasakan ingar-bingar bermain di turnamen sepak bola terakbar.
Karena kehebatannya, Alfredo di Stefano selalu dibandingkan dengan bintang lainnya pada era 1950 hingga 1960-an, Pele. Pemain kelahiran Argentina ini tak hanya dikenal dengan ketajamannya sebagai seorang striker, tetapi juga karena intuisinya sebagai play maker, dan sebagai pemain bertahan yang tangguh. Bobby Charlton memujinya sebagai pemain yang memiliki kemampuan komplet.
Di Stefano bahkan pernah bermain untuk tiga tim nasional, yaitu Argentina, Spanyol, dan Kolombia. Namun, selama 23 tahun berkarier sebagai pemain, tidak sekali pun dia pernah bermain di Piala Dunia.
Tahun 1950, saat Di Stefano membela Argentina, dia tidak bisa bermain. Negaranya tidak mengirimkan tim sebagai protes karena FIFA memilih Brasil sebagai tuan rumah. Empat tahun kemudian, Di Stefano tidak diperbolehkan FIFA bertanding di Piala Dunia karena berpindah kewarganegaraan dari Argentina ke Kolombia.
Sementara tahun 1958, Di Stefano sebenarnya sudah tinggal di Spanyol selama dua tahun, tetapi gagal saat mengurus perpindahan kewarganegaraan. Kesempatan terakhir akhirnya datang tahun 1962 ketika Di Stefano membela Spanyol di babak kualifikasi.
Namun, nasib sial menimpanya. Cedera di babak kualifikasi membuat pemain yang menciptakan lebih dari 800 gol ini tak bisa tampil di putaran final.
George Best
Pada akhir 1960-an hingga era 1970-an, George Best dikenal sebagai salah satu pemain terbaik dan karena ketampanannya. Pemain asal Irlandia Utara ini berjaya ketika bergabung dengan Manchester United. Best bahkan pernah dipilih menjadi pemain terbaik Eropa tahun 1968 dan selalu dibandingkan dengan rivalnya, Johan Cruyff.
Setelah berhenti dari MU tahun 1974, Best bermain di Amerika Serikat dengan penampilan yang sudah menurun. Apalagi, dia seorang pencandu minuman keras. Berat badannya bertambah hingga pergerakannya pun kian lambat.
Hal ini pula yang membuat Pelatih Irlandia Utara Billy Birmingham tak memilih Best sebagai anggota tim ketika negara ini lolos ke putaran final 1982.
Seperti Best, dua pemain lainnya, yaitu Eric Cantona dan Ryan Giggs, juga sukses di MU. Dengan julukan King Eric, Cantona bahkan membawa MU menjadi juara Liga Inggris empat kali.
Bersama negaranya, tim ”Ayam Jantan” Perancis, Cantona sebenarnya menyumbangkan 20 gol di 45 penampilan. Namun, perannya tak sevital di MU.
Cantona dikeluarkan dari tim nasional tahun 1988 setelah melontarkan kata-kata kasar kepada pelatih Perancis saat itu, Henri Michel, di televisi. Perancis pun gagal tampil di Piala Dunia 1990 di Italia.
Empat tahun kemudian, Cantona dan ”Les Bleus” gagal lagi karena kalah pada pertandingan terakhir kualifikasi. Padahal, hasil imbang melawan Bulgaria pada saat itu memungkinkan Perancis lolos. Cantona pun hanya menjadi komentator untuk salah satu stasiun televisi Perancis saat putaran final berlangsung di AS.
Tahun 1998, ketika Perancis menjadi tuan rumah, Pelatih Perancis Aime Jacquet juga tak memilih Cantona. Jacquet tak suka dengan sikap temperamental pemain kelahiran Marseille ini. Setelah kasus tendangan kungfu ke arah penonton, dia pernah memukul salah satu teknisi stasiun televisi hingga ditangkap polisi.
Karena selalu ”ditolak” oleh tim nasional, Cantona melirik sepak bola pantai. Dia akhirnya bisa mempersembahkan gelar juara dunia bagi Perancis, yaitu saat menjadi pelatih timnya di Piala Dunia sepak bola pantai 2005.
Nasib Giggs yang membela MU selama 20 tahun mirip Best. Meski sukses mengantarkan tim ”Setan Merah” meraih 11 gelar juara Liga Inggris dan dua juara Liga Champions, Giggs kesulitan berprestasi bersama negaranya, Wales.
Selama diperkuat Giggs, Wales hanya sekali memiliki peluang lolos ke putaran final. Namun, tiket putaran final Piala Dunia 1994 gagal didapat karena Wales hanya menempati peringkat keempat grup di babak kualifikasi.
Saat bermain di tingkat remaja, Giggs sebenarnya diizinkan bermain atas nama Inggris. Namun, ketika memasuki usia senior, FIFA tidak memperbolehkan Giggs bermain atas nama Inggris. Alhasil, hingga pensiun dari kompetisi internasional tahun 2007, Giggs tak pernah bisa merasakan bermain di ajang Piala Dunia.
Dari tanah Afrika, George Weah punya segudang prestasi saat dia bermain bersama klub- klub Eropa, seperti AS Monaco dan AC Milan. Beberapa penghargaan pun dia raih, seperti pemain terbaik Eropa hingga pemain terbaik dunia tahun 1995. Namun, pemain asal Liberia ini tak pernah bisa meloloskan negaranya ke ajang Piala Dunia meski itu adalah impian terbesarnya.
Weah, yang dibawa dari Liberia ke Perancis oleh Arsene Wenger untuk bermain di AS Monaco, bahkan sampai mengeluarkan uangnya sendiri agar Liberia bisa tampil di Piala Dunia.
Dia mengeluarkan dana hampir 2 juta dollar AS untuk membiayai berbagai kebutuhan tim nasional, seperti membeli peralatan, melakukan perjalanan, hingga membayar gaji pemain. Tahun 2002, impian Weah hampir terwujud, tetapi Liberia kalah satu poin dari Nigeria.
Setelah gagal mengabdi di sepak bola, mulai dari pemain, pelatih, direktur teknik, hingga menjadi sumber keuangan tim nasional, Weah memilih bidang politik. Dia mencalonkan diri menjadi presiden Liberia pada pemilu 2005, tetapi kalah dari Ellen Johnson Sirleaf.
Namun, Weah pantang mundur. Saat ini dia tinggal di Florida, AS, dan tengah menjalani kuliah tentang ilmu politik. Misinya kini adalah mengabdi kepada negara untuk memenangi pemilu presiden 2012. (Kompas/yulia sapthiani)
Bintang yang Tak Pernah Main di Piala Dunia
Editor: Prawira
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan