SUARA vuvuzela yang
mirip invasi ribuan lebah ke stadion, tidak bisa menutupi
kekecewaan pendukung Inggris yang mengejek para pemainnya seusai laga
melawan Aljazair. Pelatih Inggris Fabio Capello sampai kebingungan untuk
menjelaskan apa yang terjadi dengan buruknya permainan Inggris.
Untuk
saat ini, satu-satunya hal positif dari dua penampilan Inggris adalah
mereka masih memiliki harapan untuk lolos. Lalu, apa yang sebenarnya
terjadi dengan Inggris? Meski tidak memberi jawaban pasti, ada sejumlah
alasan yang barangkali bisa menjadi penjelasan soal ompongnya ”Three
Lions”.
Taktik
Kurangnya adaptabilitas taktik
menjadi masalah nyata yang terlihat saat melawan Amerika Serikat
ataupun Aljazair. Inggris, memakai formasi 4-4-2, yang mulai banyak
ditinggalkan elite-elite sepak bola, tidak mampu membongkar pertahanan
ketat Aljazair. Skema 4-4-2 dengan Steven Gerrard, seorang gelandang
tengah, yang dimainkan di sayap kiri adalah kesalahan.
Taktik itu
berjalan baik bagi Inggris saat kualifikasi. Namun, hal itu tidak
bekerja di Afrika Selatan dan Capello sebagai seorang pelatih
berpengalaman seharusnya melakukan adaptasi taktik sesuai dengan yang
terjadi di lapangan. Apakah bermain di Piala Dunia, di liga, atau
bermain di mana pun, harus ada ”Plan B” jika rencana utama gagal.
Kekakuan
pada satu taktik tertentu itu sudah terlihat saat Capello memberikan
waktu sangat panjang bagi Gareth Barry untuk pulih dari cedera. Padahal,
Di awal kepelatihannya, ia mengatakan bahwa hanya akan membawa pemain
yang sepenuhnya fit, tetapi ia tetap memilih Barry.
Barry memang
penting bagi taktik Inggris, tetapi itu menjadi indikasi kurangnya
alternatif rencana dari Capello. Mengapa Capello membuang Scott Parker,
pemain West Ham yang lebih fit? Barangkali ia tidak sebaik Barry. Namun,
sebagai gelandang bertahan ortodoks, ia memberi pilihan kepada Capello
memainkan pola 4-2-3-1 atau 4-3-3.
Barangkali Inggris memang
tidak memiliki pemain yang dibutuhkan untuk sukses di level tertinggi.
Dengan jelas, Capello menunjukkan hal itu saat ia meminta Jamie
Carragher dan Paul Scholes kembali dari pensiun.
Meski memenangi
sembilan dari sepuluh laga kualifikasi, apa yang dilakukan Capello
memperlihatkan ia tidak punya keyakinan penuh pada kualitas pemain yang
tersedia. Capello juga membuat masalah tersendiri dengan tidak bisa
menunjuk kiper pertamanya sebelum Piala Dunia dimulai. Hal itu bisa
terjadi karena tidak ada kiper yang benar-benar hebat sehingga sulit
untuk memilih.
Inggris ternyata memang hanya memiliki paling
banyak dua atau tiga pemain berkelas dunia, jumlah yang terlalu sedikit
dibandingkan dengan tim favorit lain, seperti Argentina atau Brasil.
Boleh jadi, kualitas pemain seperti Wayne Rooney, Gerrard, Frank
Lampard, John Terry adalah overrated, dinilai terlalu tinggi dari
kenyataan sesungguhnya. Para pemain Aljazair terlihat jauh lebih baik
dalam mengontrol dan mengumpan bola, dua teknik dasar dalam sepak bola.
Beban
klub
Para pemain Inggris telah kehabisan napas sebelum
Piala Dunia dimulai karena beban yang terlalu berat di klub. Pemain
seperti Gerrard, Rooney, dan Lampard, yang bermain di klub top, bisa
bermain lebih dari 60 kali dalam semusim karena harus bermain di empat
kompetisi, ditambah laga internasional.
Kapten Selandia Baru,
Ryan Nelsen, yang bermain bersama Blakcburn Rovers, menyalahkan Liga
Primer sebagai penyebab masalah Inggris di Piala Dunia. ”Secara mental
dan fisik, itu adalah liga terberat di dunia dan Anda melihat sejumlah
pemain hebat dari negara lain cedera karena bermain di Liga Inggris,”
kata Nelsen dikutip Reuters, merujuk kepada Michael Ballack, Michael
Essien, dan John Obi Mikel, ketiganya pemain Chelsea, yang absen atau
sempat absen tampil di Afrika Selatan karena cedera.
Harmoni
Harmoni
skuad menjadi faktor kunci kesuksesan tim menghadapi sebuah turnamen.
Rusaknya harmoni di skuad bisa menjadi salah satu sebab penampilan
Inggris saat ini. David James mengirimkan sinyal jelas bahwa terjadi
keretakan antara pemain dan Capello. Para pemain mulai kehilangan
kepercayaan dengan pelatih asal Italia itu.
Kepada media, James
secara terang-terangan mempertanyakan taktik dan kebijakan Capello.
Kiper berusia 40 tahun ini tidak suka dengan kebijakan Capello yang baru
mengumumkan susunan pemain hanya dua jam sebelum laga.
Tekanan
Sebagai
salah satu kiblat sepak bola dunia, harapan Inggris di level
internasional selalu sangat tinggi. Seusai laga lawan Aljazair, Rooney
dengan menghadap kamera secara sarkastis mengecam suporter Inggris yang
mengejek penampilan para pemain. ”Senang jika suporter Anda sendiri
mengejek Anda,” kata Rooney.
Tindakan itu menjadi indikasi jelas
bahwa tekanan dari luar lapangan terasa sangat berat bagi yang bermain.
Tekanan dari media tidak kalah besarnya. Tidak ada media lain di dunia
yang sekejam media Inggris saat menilai penampilan pemain tim nasional
mereka. ”Anda, media Inggris, sungguh buruk. Spanyol kalah, Jerman
kalah, sementara Inggris belum kalah. Namun, Anda telah membunuh mereka.
Saya kasihan dengan mereka,” ujar Ryan Nelsen lagi.
Dengan
potensi dipermalukan kepada publik, tidaklah mengherankan jika para
pemain Inggris tak bermain lepas di lapangan. Tak salah jika Clint
Dempsey, pemain AS, menyebut Inggris bermain penuh ketakutan. Di level
klub, kesalahan akan terhapus saat laga berikutnya datang—biasanya
kurang dari seminggu. Namun, di level internasional, pemain menyadari
bahwa kesalahan fatal akan menghantui mereka seumur hidup.(Kompas Cetak)
Melempem, Ada Apa dengan Inggris?
Editor: Iwan Apriansyah
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan