Laporan Wartawan Kompas.com, Hery Prasetyo dari Afrika Selatan
JOHANNESBURG —
Sungguh, Piala Dunia 2010 memberi hasil ironis buat tuan rumah Afrika
Selatan (Afsel) dan tim Afrika lain. Ini merupakan kali pertama Piala
Dunia di Benua Afrika. Namun, kesempatan ini justru tak mampu
dimanfaatkan dengan baik oleh tim-tim di "kawasan hitam" ini. Bahkan,
tuan rumah harus tersingkir pada babak awal.
Padahal, perjuangan
Afrika untuk mengusung Piala Dunia ke benua itu begitu besar.
Bertahun-tahun mereka berusaha menjadi tuan rumah, tapi baru kali ini
bisa sukses di Afsel.
Kehadiran Piala Dunia 2010 di Afsel
sebenarnya menjadi tonggak sejarah. Pasalnya, ini juga sebagai simbol
bahwa bangsa Afrika mulai sejajar dengan bangsa lain dalam kemampuan
menggelar Piala Dunia. Sebuah pesta olahraga yang tak sekadar masalah entertainment
dan kompetisi, tapi juga memberi pesan ekonomi-sosial-politik yang
kuat kepada dunia.
Itu pula sebabnya, Afsel membuat
jargon-jargon yang menekankan bahwa Afsel pada khususnya dan Afrika pada
umumnya sama dan sederajat dengan bangsa lain. Sebuah penekanan yang
selalu diperjuangkan bangsa Afrika sejak lama. Pasalnya, sejak lama pula
mereka selalu menjadi subordinan dan bahkan tertindas.
"Dat
is hier". Begitu salah satu slogan Afsel. Maksudnya, sekarang Piala
Dunia itu benar-benar di sini. Di Afrika, tepatnya di Afrika Selatan.
"Tidakkah kamu merasakannya?" Pertanyaan itu sering muncul selama Piala
Dunia 2010.
"Ke Nako". Itu slogan lain yang maksudnya
inilah saatnya. Sebuah frase yang penuh makna dan filosofi. Frase itu
juga bisa dimaknai sebagai saat Afrika untuk sejajar dengan bangsa lain.
Saat Afrika harus berprestasi. Saat Afrika harus berbangga diri. Saat
Afrika harus merasa percaya diri. Saat Afrika harus menegakkan kepala
dan tak perlu merasa tersubordinasi.
"Orang-orang menilai Afrika
tak ubahnya masyarakat terbelakang. Sekarang Anda lihat dan rasakan
sendiri, bagaimana kami menggelar Piala Dunia. Apa yang kamu rasakan?"
demikian tanya seorang polisi bernama Mischa di Johannesburg. Sebuah
pertanyaan yang mencerminkan kegeraman dan kegemasan mereka karena
selalu dianggap terbelakang.
Bahkan, setiap kali ada orang asing,
warga Afsel selalu menanyakan tanggapannya tentang Afsel. Mereka ingin
tahu pendapat orang lain tentang negaranya atau benuanya yang selama ini
dianggap terbelakang. Mungkin sudah 10 kali Kompas.com ditanya
soal perasaannya terhadap keadaan di Afsel dan Piala Dunia. Mereka
hanya sekadar tahu bagaimana tanggapan orang asing kepada Afrika.
Rupanya,
perasaan tersubordinasi itu masih ada, masih kental. Afsel dan Afrika
pada umumnya masih terus berjuang menggapai kesetaraan itu, baik secara
ekonomi, sosial, politik, budaya, maupun pengakuan internasional.
Maka
dari itu, ketika kita menjawab bahwa Afsel luar biasa, tak ubahnya
Eropa, mereka akan sangat bangga. Namun di sisi lain, kadang ada
keraguan juga. Seolah, mereka belum benar-benar percaya.
"Is
it, ya?" begitu mereka balik bertanya ketika kita puji Afsel dan
Afrika. Dalam bahasa Indonesia berarti, "Mosok, sih?"
Sejarah
Afrika memang kelam. Dianggap terbelakang dan dieksploitasi bangsa
Eropa sebagai budak, tanah mereka bahkan juga ikut dieksploitasi.
Afsel
merasakan betapa subordinasi itu begitu membekas dan sakitnya masih
terasa. Di Afsel, politik Apartheid benar-benar membuat warga kulit
hitam dan berwarna (coloured) merasa seperti orang asing di
negeri sendiri. Mereka dipinggirkan dalam segala segi, dibedakan
perlakuannya dari kulit putih yang dulu berkuasa. Dan, Apartheid itu
baru hilang secara resmi 16 tahun lalu. Sebuah masa penyembuhan yang
terlalu singkat dibanding luka yang berabad-abad.
Lalu, Piala
Dunia diharapkan akan menjadi tonggak sejarah, menegaskan betapa Afrika
sudah setara. Di Afsel sendiri, Piala Dunia diharapkan menjadi tonggak
pembauran semua ras. Pasalnya, ini persoalan paling krusial di Afsel.
Wajar
jika kemudian pemerintah membuat slogan, "Different tribe, one
pride, one win (Berbeda suku tapi satu kebanggaan dan kemenangan)."
Piala
Dunia 2010 memang punya makna luas dan besar bagi Afsel dan seluruh
benua Afrika. Namun, sayang secara prestasi kurang diimbangi. Afsel
justru tumbang paling awal. Aljazair, Niegeria, dan Pantai Gading juga
hampir tersingkir. hanya Ghana yang punya peluang berprestasi.
Sebenarnya,
akan semakin sempurna jika tim-tim Afrika juga berjaya. Maka dari itu,
hal ini akan menjadi pesan kuat bahwa Afrika sudah setara dengan bangsa
lain.
Meski begitu, sukses Afsel menggelar Piala Dunia 2010 patut
diacungi jempol. Ini sudah cukup sebagai pesan kesetaraan bangsa
Afrika. Tinggal bagaimana mengejar kesetaraan di bidang lain.
Ya,
pengakuan kesetaraan memang penting buat Afrika karena luka lama akibat
penindasan. Dan, sekarang mereka sudah bisa berbangga karena setara.
"Ke
nako Afrika." Inilah saatnya membusungkan dada! (*)
*) Tribunnews.com Kompas-Gramedia mengirim delapan wartawan untuk meliput Piala Dunia 2010 di Afrika Slatan
Baca tanpa iklan